Serunya Menjelajah dan Bermain-Main di Lautan Pasir Bromo

Akhir bulan sekaligus akhir pekan tanpa kegiatan, daripada bosan mendingan coba riding untuk menikmati pemandangan indah dan dinginnya udara di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semerau (TNBTS). Mini touring yang saya lakukan pada 29-30 Agustus 2014 lalu ini benar-benar tanpa persiapan dan rencana. Pokoknya ada waktu luang langsung cusss berangkat..

Pada touring jarak dekat ini saya cukup iseng mengambil rute keberangkatan dari Surabaya menuju Bromo lewat Pasuruan-Tosari, sedangkan pulannya saya memilih rute dari Bromo ke Surabaya lewat Tumpang-Malang.

Etape 1: Surabaya-Tosari-Penanjakan I

Untuk menuju Bromo, saya lebih memilih masuk melalui pintu gerbang yang ada di Tosari, Kabupaten Pasuruan, dengan pertimbangan jarak yang lebih dekat jika dibandingkan lewat Cemoro Lawang yang berada di Kabupaten Probolinggo. Selain itu, saya sudah pernah ke Bromo lewat Probolinggo, sehingga kurang seru jika harus melewati jalan yang sama.

Pada Jumat malam, riding gear sudah terpasang semua di badan, termasuk jaket, sarung tangan, protektor lutut, sepatu, dan helm. Nggak ketinggalan bawa tripod buat jaga-jaga kalau mau narsis, soalnya nggak ada tukang fotonya nanti. Hehe..

Sekitar jam 21.00 saya memacu tunggangan saya, Si Belalang Tempur KLX 150L, keluar dari Kota Surabaya menuju ke arah Kota Pasuruan melalui Sidoarjo dan Bangil. Sempat saya beriringan dengan rombongan touring motor campuran yang juga akan ke Bromo. Namun mereka melalui Probolinggo, sedangkan saya lewat Tosari, jadi kami berpisah saat tiba di Pasuruan.

Kondisi lalu lintas yang cenderung ramai lancar membuat saya dengan cepat tiba di Pasuruan. Saya kemudian memacu Belalang Tempur ke Tosari. Perjalanan dari Pasuruan ke Tosari ini nantinya akan melewati beberapa daerah, seperti Warungdowo, Ranggeh, dan Puspo. Jalanan di daerah tersebut bisa dibilang sangat sepi, apalagi di malam hari setelah lewat jam 22.00. Jika bro sekalian ingin mencoba ke Bromo lewat jalur ini di malam hari, ada baiknya mengisi penuh tangki bahan bakar saat masih berada di Kota Pasuruan. Dari Pasuruan melewati daerah-daerah tersebut tidak ada lagi SPBU. Beberapa warung memang menyediakan bensin eceran, tapi jika sudah lewat dari jam 22.00, bisa dipastikan warung-warung itu tutup semua.

Dari Pasuruan menuju Warungdowo dan Ranggeh jalanan cukup mulus tapi tidak terlalu lebar. Apalagi jika sudah memasuki Jalan Raya Tebas dan Jalan Pasreupan ke arah Puspo, jalanan sangat lengang, mulus, dan tidak banyak tikungan. Tapi kontur jalan ini sudah mulai menanjak dengan udara yang mulai semriwing di badan. Menjelang masuk ke daerah Puspo, jalan mulai naik tajam dengan tikungan ke kanan dan kiri yang luar biasa dahsyat dan seolah tidak ada habisnya. Di sinilah kemampuan KLX 150L diuji. Motor ini sangat enak diajak nanjak jika diperlakukan dengan pas, yaitu hajar terus dengan RPM tinggi. Kalau salah timing dalam mengganti gigi, ya siap-siap tenaga seperti kedodoran. Di jalan yang berliku dan menanjak ini saya cuma main di gigi 1-2-3. Yang ketiga itupun biasanya hanya beberapa detik saja sebelum akhirnya dikurangi karena di depan sudah ada tikungan tajam dan tanjakan curam yang menyambut.

Nah, saya mesti sedikit waspada saat melibas jalanan seperti ini karena tidak ada penerbangan jalan sama sekali. Lampu motor merupakan penerangan satu-satunya yang bisa diandalkan. Sesekali saya bertemu pemukiman penduduk, tapi kemudian kiri-kanan hanya berupa hutan yang cukup lebat. Semakin ke atas, tanjakan dan tikungan semakin menjadi-jadi. Saya tidak begitu memperhatikan apa yang ada di kiri dan kanan. Saya cuma fokus melihat jalan di depan agar tidak tergelincir.

Jalan naik dan berliku ini rupanya belum berakhir bro. Sampai di Puspo pemukiman penduduk cukup banyak. Terlihat beberapa aktivitas warga yang berkumpul di depan api menghangatkan tubuh. Tapi dari Puspo ini sampai di Tosari masih sekitar 15 kilometer lagi. Dalam kondisi normal, siang hari dan jalan lurus, 15 kilometer adalah jarak yang relatif dekat. Tapi jika ditempuh di malam hari dengan jalanan khas pegunungan, ini terasa sangat lama. Apalagi semakin naik suhu udara semakin dingin, mungkin sekitar 15 derajat celcius. Jaket dan sepatu yang saya pakai sudah cukup melindungi badan dari dinginnya udara. Tapi tangan mulai gemetaran akibat dinginnya udara masuk melalui pori-pori sarung tangan kulit yang saya pakai.

Setelah menempuh perjalanan selama dua jam yang sangat mendebarkan, jam 23.10 akhirnya saya tiba di Tosari. Saya berhenti di sebuah warung kopi di dekat parkiran mobil-mobil pribadi. Seperti diketahui, mobil-mobil pribadi dilarang masuk ke kawasan wisata. Mereka bisa melanjutkan ke kawasan wisata di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dengan menggunakan Jeep atau Hardtop yang disewakan oleh penduduk setempat. Sedangkan para biker bisa melenggang dengan bebas tanpa batas.

Meskipun belum tengah malam tapi banyak juga rombongan pemotor yang sudah sampai di Tosari, tepatnya Desa Wonokitri. Sama seperti saya, mereka beristirahat di warung untuk sekedar memesan minuman hangat atau makan. Malam itu saya memesan kopi dan mie instan untuk mengisi perut sekaligus mengurangi rasa dingin yang sangat menusuk badan.

Yang bisa dilakukan di warung hanya duduk-duduk sembari menunggu pagi. Beberapa orang berusaha memejamkan mata, tapi sepertinya memang sulit tidur dalam posisi duduk. Ditambah lagi dengan suhu udara yang super dingin. Daripada bosan menunggu di warung, sekitar jam 01.00 saya memacu Si Belalang Tempur menuju Penanjakan I. Tempat ini adalah spot yang paling menarik untuk melihat sunrise di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Pertimbangan saya, lebih baik menunggu di Penanjakan I saja daripada menunggu di Wonokitri.

Karena masih tengah malam, belum ada orang di pos jaga tiket. Sayapun langsung melenggang tanpa membayar tiket. Harga tiket masuk ke Bromo sekarang ini adalah 27.500 saat weekday dan 32.500 saat weekend per orang, belum termasuk tiket masuk motor yang kalau tidak salah sekitar Rp 5.000.

Malam itu saya kembali menikmati tanjakan dan tikungan-tikungan yang ganas di tengah hutan yang lumayan lebat. Saat saya bertanya kepada penduduk setempat yang berjualan souvenir, jarak dari Wonokitri ke Penanjakan I masih sekitar 12 kilometer lagi. Itu berarti bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit. Udara dingin yang semakin parah berusaha saya tahan. Hembusan angin menembus sarung tangan hingga membuat tangan kaku. Hidungpun terus berlendir dan terasa tidak nyaman untuk bernapas.

Setelah 30 menit, saya sampai juga di Penanjakan I. Beruntung sudah mulai ada warung yang buka. Saya kemudian mampir ke warung itu memesan kopi panas yang tidak terasa panas. Beruntung penjaga warung menyalakan perapian yang sedikit membantu menghangatkan badan. Sesekali saya berbaring di kuri panjang, mencoba memejamkan mata. Tapi suhu udara yang mencapai 10 derajat celcius itu membuat saya tidak bisa tidur.

Sejak jam 03.00 sudah banyak pengunjung lain yang berdatangan ke Penanjakan I, baik itu yang menggunakan motor maupun naik Hardtop. Jam 04.30 saya mulai melangkahkan kaki ke pendopo tempat berkumpulnya manusia melihat sunrise. Rupanya sudah sangat ramai di sini. Udara di luar seperti ini jauh lebih dingin dibanding dengan di dalam warung. Hembusan angin sangat kuat menerpa badan. Sebaiknya memang memakai jaket setebal mungkin saat ke Bromo.

DSC_0731

Sekitar jam 05.00 lebih, semburat warna orange mulai menampakkan diri dari balik pegunungan. Ya, sunrise sudah mulai muncul, salah satu pemikat ratusan hingga ribuan wisatawan ke Bromo setiap harinya. Pengunjung Penanjakan I pun berebut mengabadikan momen yang sangat cantik ini. Ada yang fokus memotret sunrise, ada juga yang berupaya narsis di tengah kerumunan manusia yang sangat padat.

Setelah merasa cukup memotret sunrise, saya kembali ke warung menikmati segelas teh manis panas dan pisang goreng panas. Kombinasi yang benar-benar pas! NEXT

17 thoughts on “Serunya Menjelajah dan Bermain-Main di Lautan Pasir Bromo”

        1. saya beberapa kali ngisi pakai premium, itupun eceran karena nggak nemu SPBU, contohnya ya pas ke Bromo ini ๐Ÿ˜€

          kalau yang bagus sih memang mesti pakai bensin RON 92 ke atas

    1. koplingnya kenapa ya om? kalau KLX 150L saya ini so far nggak ada masalah kopling. Satu-satunya masalah hanya roller rantai bawaan yang mudah hancur plus susah nyari penggantinya ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *