Jelajah 4 Taman Nasional di Jawa Timur Part 1: Eksotisnya Baluran

Pagi-pagi setelah subuh saya sudah bersiap meninggalkan Kota Surabaya menuju Situbondo, tempat tujuan pertama saya dalam “Jelajah 4 Taman Nasional di Jawa Timur”, yaitu Taman Nasional Baluran. Perjalanan yang dimulai saat matahari belum muncul itu saya lakukan dengan santai saja meski jalanan masih sangat lengang. Kecepatan motor saya patok antara 60-80 kilometer per jam.

IMG_20141010_044806

Perjalanan dari Surabaya menuju Taman Nasional Baluran itu ditempuh dalam jarak sekitar 260 kilometer melalui beberapa kota di Jawa Timur, seperti Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, dan Situbondo sebelum akhirnya tiba di Taman Nasional Baluran.

Perjalanan pada pagi hari itu tergolong lancar. Sempat berhenti di Paiton, yang terkenal sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Jawa Timur, untuk membeli minum di mini market karena cuaca yang begitu panas dan sangat menguras tenaga saat riding. Mungkin Paiton ini hampir  tepat berada di tengah-tengah antara Surabaya dan Taman Nasional Baluran. Jarak dari Paiton menuju Taman Nasional Baluran paling tidak masih sekitar 130 kilometer lagi.

DSC_0002

Setelah berhenti sejenak di Paiton, perjalanan saya lanjutkan menuju Kota Situbondo. Dalam perjalanan ini perlu ekstra waspada karena jalanan sangat mulus dan berliku melewati hutan kering, ditambah dengan kawanan monyet yang terkadang bisa menyeberang setiap saat. Sampai di Kota Situbondo saya kembali berhenti untuk sarapan. Maklum sejak berangkat subuh perut belum diisi. Jadi nggak heran kalau badan mulai gemetaran.

Tidak jauh keluar dari Kota Situbondo, saya sudah memasuki jalan yang merupakan area Taman Nasional Baluran. Jalanan ini sangat mulus dengan berbagai kelokan yang cukup menantang, ditambah dengan sensasi pemandangan hutan jati di sebelah kanan dan kiri yang sudah meranggas akibat musim kemarau.

DSC_0007

Benar saja, tidak lama menembus hutan jati ini saya menemukan tulisan “TN Baluran”, yang berarti tinggal belasan kilometer lagi saya akan sampai di pintu masuk Taman Nasional Baluran. Setelah melalui perjalanan panjang kurang lebih 5,5 jam, akhirnya saya sampai juga di Taman Nasional Baluran.

Untuk masuk ke area Taman Nasional Baluran, wisatawan perlu membayar tiket masuk sebesar Rp 5.000 per orang dan untuk tiket masuk kendaraan roda dua juga sebesar Rp 5.000.

DSC_0011

Salah satu atraksi wisata unggulan yang ada di Taman Nasional Baluran adalah Savana Bekol, sebuah padang rumput yang sangat luas sebagai tempat berkumpulnya binatang yang ada di taman nasional ini. Bahkan Bekol menjadi padang rumput terluas yang ada di Pulau Jawa sehingga sering kali mendapatkan julukan sebagai Africa van Java. Savana Bekol memiliki luas sekitar 10.000 hektar atau 40 persen dari total luas hutan Baluran yang mencapai 25.000 hektar.

Dari pos pintu masuk Taman Nasional Baluran yang ada di Batangan menuju Bekol ini berjarak kurang lebih 12 kilometer dengan kondisi jalan aspal yang rusak, tapi tidak terlalu parah jadi masih enak untuk high speed dengan motor dual sport seperti Kawasaki KLX 150L. Tapi ya beginilah serunya riding adventure, jalan hancur pun tidak menjadi halangan, malah menjadi tantangan.

DSC_0014

Dengan jarak yang hanya 12 kilometer, perjalanan dari Batangan menuju Bekol ditempuh dalam waktu antara 20-30 menit melintasi hutan yang mengering, malah di beberapa spot terlihat bekas kebakaran. Cukup miris juga ya, saat musim kemarau seperti ini memang hutan menjadi sangat rawan terbakar.

Pemandangan Africa van Java sesungguhnya baru terlihat saat saya menjelajah Bekol ke arah Pantai Bama yang merupakan jalur off road berupa jalan tanah. Tapi kondisi jalan seperti ini malah cukup mengasyikkan karena tidak banyak goncangan seperti jalan aspal yang rusak parah. Tapi imbasnya debu bertaburan kemana-mana.

Berbagai binatang liar sempat saya temui saat keliling Bekol ini, seperti kerbau, rusa, burung merak, dan lutung/budeng, sejenis kera yang berbulu hitam pekat dan berekor panjang. Rusa adalah binatang yang paling mudah ditemui di Bekol. Saya harus berhenti berkali-kali karena gemas ingin memotret gerombolan rusa-rusa itu.

DSC_0066

Sebaiknya gunakan lensa tele dengan panjang minimal 300 mm untuk bisa memotret binatang dengan nyaman. Lensa yang lebih panjang berpeluang menghasilkan gambar lebih bagus karena kita tidak perlu terlalu dekat dengan objek. Saya yang menggunakan lensa 200 mm masih lumayan kerepotan, apalagi binatang-binatang ini sangat sensitif dengan kedatangan manusia. Begitu ada hal yang mereka anggap mencurigakan, mereka akan selalu waspada dan siap melarikan diri.

Sesekali saya melihat burung merak dan ayam hutan dengan santai menyeberangi jalan. Namun ketika saya turun dari motor untuk mengejarnya demi mendapatkan gambar, burung itu sudah hilang di tengah rerumputan. Perjalanan kemudian saya lanjutkan menuju ke arah Pantai Bama. Mendekati Pantai Bama ini cukup mudah menemukan lutung dan burung rangkong karena mereka tidak suka berada di savana yang begitu panas.

DSC_0093

Sebenarnya masih ada banyak lagi binatang lain di Bekol ini, seperti babi hutan, ajag atau sejenis anjing hutan yang sangat gemar memangsa rusa, macan tutul, kucing batu, kucing bakau, dan banteng. Tapi saya tidak melihat binatang-binatang itu. Mungkin kalau bersabar dan lebih lama di sana bisa berkesempatan melihatnya.

Beda dengan Savana Bekol yang didominasi rusa, Pantai Bama yang merupakan pantai berpasir putih sangat didominasi oleh monyet yang banyak bergelantungan di hutan bakau. Hal yang perlu diperhatikan, monyet-monyet di Pantai Bama ini begitu nakal dan agresif. Mereka tidak akan segan-segan merebut barang-barang yang dibawa pengunjung, terutama jika membawa makanan. Tas saya yang tidak berisi makanan saja mereka gigit hingga robek, sedangkan botol air mineral yang hanya saya jepitkan dengan tali di jok motor juga berhasil digigit hingga bolong. Luar biasa memang monyet-monyet ini.

Bagi om dan tante yang bertemu binatang liar di tempat mana saja, termasuk seperti monyet ini, jangan sekali-sekali memberi mereka makanan, meski kadang mereka ini cukup menggemaskan. Kebiasaan memberikan makanan akan mengubah perilaku binatang yang menjadi ketergantungan dengan manusia dan akan merugikan pengunjung itu sendiri di kemudian hari.

DSC_0092

Karena jengah dengan perilaku monyet yang sangat nakal di Pantai Bama, saya pun tidak berlama-lama. Saya kembali lagi ke Bekol menikmati berbagai pemandangan binatang yang tidak terlalu agresif seperti rusa dan kijang.

Jika ingin bermalam di Taman Nasional Baluran, pengelola menyediakan wisma di Bekol. Tarif menginap di wisma itu mulai dari Rp 150.000 per malam. Sebaiknya bawa perbekalan yang cukup jika berencana menginap karena di Bekol meski ada kantin tapi tidak jaminan pasti buka. Untuk makan kita harus keluar ke Batangan yang berjarak 12 kilometer. Cukup merepotkan bukan? Tapi jika om dan tante ingin mendirikan tenda, terdapat camping ground di dekat pintu masuk Batangan.

Selain Bekol dan Pantai Bama, objek lain yang bisa dikunjungi adalah Goa Jepang yang terletak di Batangan, dekat dengan pintu masuk Taman Nasional Baluran. Jangan lewatkan pula objek lain di sekitarnya, seperti Manting, Air Kacip, Popongan, Bilik, Sijile, Sirontoh, Kalitopo, Curah Tangis, Labuan Merak, Candi Bang, dan Kramat. Satu hal yang pasti, om dan tante tidak akan menyesal berkunjung ke Taman Nasional Baluran yang sangat eksotis ini.

27 thoughts on “Jelajah 4 Taman Nasional di Jawa Timur Part 1: Eksotisnya Baluran”

  1. Wih manteb bro single figter juosss…
    Q dl dua kali kesn emg mantab tub rekomended tuk jd twmpat wisata akhir pekan
    Ngomong ko mesti sdr klo touring bro…g ada tmn yg mau diajak ta..kan makin seru tuh klo ada 1-2 org tmn lg

  2. nyooss..! Solo riding, adventure riding emg favorit. Menikmati pemandangan, suasana, gak perlu tergesa2..klo hobi fotografi jg bs tersalur..

  3. kalo bisa nginap semalam saja, bisa lihat sunrise plus kicauan burung, rusa dan merak yang “ngece” dekat sungai kecil sebelum bama

    wah kalo liburan, mau deh nemani cuma sampai jember

  4. saat sore menjelang malam dan pagi menjelang banyak hewan keluar di savana, banyal dan jinak, eman kalo dilewatkan, saran saya menginap disini

  5. menginap di bekol lebih murah dari pada di bama, cuma indah bama karena pantai, tapi sring penuh, harus boking dulu, terutama hari libur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *