Jelajah 4 Taman Nasional di Jawa Timur Part 2: Bingung Mencari Penginapan di Alas Purwo

Om dan tante sekalian, melanjutkan cerita Jelajah 4 Taman Nasional di Jawa Timur: Eksotisnya Baluran, sekitar jam 15.00 saya sudah cukup mengeksplor Taman Nasional Baluran yang terkenal dengan padang savananya yang sangat luas.

Berdasarkan rencana awal, saya akan menginap di sekitar Taman Nasional Baluran atau di Banyuwangi pada hari pertama ini. Namun, melihat waktu yang sepertinya masih memungkinkan, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Alas Purwo yang berada di sebelah selatan Banyuwangi.

Pertimbangannya adalah jarak tempuh dari Taman Nasional Baluran ke Taman Nasional Alas Purwo sekitar 100 kilometer. Jika tidak ada kendala, jarak sejauh ini bisa ditempuh dalam waktu dua jam atau paling lambat tiga jam. Itu berarti saya akan tiba di Alas Purwo menjelang atau tepat saat maghrib. Saya berencana menginap di Alas Purwo atau daerah sekitarnya jika memungkinkan, meskipun saya belum tahu secara pasti apakah ada atau tidak penginapan di sana.

Berbekal panduan dari GPS, saya melanjutkan perjalanan dari Baluran ke Alas Purwo melalui Pelabuhan Ketapang dan Kota Banyuwangi. Saya sempat berhenti sejenak di Patung Gandrung sebelum Pelabuhan Ketapang. Arus lalu lintas sore itu juga tergolong sangat lancar, bahkan saat memasuki Kota Banyuwangi juga tidak ada kendala apapun. Saya kembali berhenti di sebuah warung bakso menjelang masuk daerah Rogojampi.

IMG_20141010_145037

Sekitar pukul 17.00, saya sudah tiba di daerah Srono, yang kemudian dilanjutkan menuju Kecamatan Tegaldlimo, Desa Kalipait, dan Dusun Pasaranyar sebelum sampai di pintu masuk Alas Purwo di Rowobendo.

Benar saja, saya tiba di Desa Kalipait sudah menjelang waktu maghrib. Sempat ragu apakah akan lanjut masuk ke Alas Purwo atau tidak. Apalagi Kalipait adalah desa terakhir dan di dalam hutan nantinya sudah tidak ada pemukiman penduduk lagi. Dengan tekad bulat, saya memutuskan untuk lanjut.

Rasa keraguan yang saya rasakan semakin kuat ketika mulai masuk ke area hutan. Menjelang malam seperti ini sudah sangat jarang orang yang lewat, sedangkan di kiri-kanan hanya hutan jati yang cukup lebat dipadu dengan jalan aspal yang rusak parah. Sementara itu jarak hingga ke Pos Rowobendo masih sekitar 6 kilometer lagi. Mau ngebut jalan hancur, nggak ngebut juga horror. Coba saja om dan tante browsing mengenai Alas Purwo, pasti jauh lebih banyak yang membahas masalah mistis dan keangkeran hutan ini daripada membahas potensi keindahannya.

Di tengah kegalauan itu, dari kejauhan samar-samar muncul pengendara Kawasaki KLX 150S berwarna hitam dengan baju seragam coklat. Saya pun tidak segan-segan untuk memberhentikannya. Rupanya itu adalah Pak Pomo, seorang petugas Taman Nasional Alas Purwo yang biasa berjaga di Pos Pancur. Saya bertanya berbagai hal mengenai Alas Purwo, termasuk ketersediaan penginapan di dalam area taman nasional.

Berdasarkan penjelasan Pak Pomo, di dalam area Taman Nasional Alas Purwo tidak ada penginapan. Kalaupun ada, itu di Pantai Plengkung yang berjarak 14 kilometer dari Pos Rowobendo atau 9 kilometer dari Pos Pancur. Penginapan di sana tidak dihitung per kamar, melainkan per kepala dengan harga Rp 400.000. Itu belum ditambah dengan rental mobil 4×4 dari Pancur ke Plengkung yang mencapai Rp 200.000. Menurut keterangan Pak Pomo, motor maupun kendaraan pribadi lainnya tidak diperkenankan masuk ke Plengkung. Pengunjung bisa memarkirkan kendaraannya di Pancur dan kemudian menyewa mobil yang sudah disediakan.

Mendengar penjelasan dari Pak Pomo, tentu saya sangat berat untuk melanjutkan perjalanan masuk ke Alas Purwo saat itu juga. Namun, Pak Pomo memberikan saran agar saya langsung ke Pos Pancur untuk berkordinasi dengan teman-temannya. Di sana terdapat camping ground dan saya bisa menyewa tenda untuk bermalam. Apalagi malam itu ada rombongan anak sekolah (SMP) yang sedang berkemah di Pancur. Pos Pancur masih berjarak sekitar 10 kilometer dari posisi saya dan Pak Pomo saat itu karena saya waktu itu juga belum mencapai Pos Rowobendo. Jarak 10 kilometer, di tengah hutan yang sepi, malam hari, dan jalan rusak, kombinasi yang sangat sempurna kan? :mrgreen:

Saya masih terus memutar otak dan mencari solusi terbaik. Saya kemudian bertanya, apakah ada homestay atau rumah warga yang bisa saya tempati di sekitar Desa Kalipait atau Dusun Pasaranyar? Seperti mengingat sesuatu, Pak Pomo kemudian tersenyum dan dengan yakin menyatakan ada! Beliau kemudian mengantarkan saya ke rumah salah seorang warga bernama Ibu Juadi. Otomatis saya kembali harus keluar hutan mengikuti Pak Pomo.

Sesampainya di rumah Ibu Juadi yang berada di Dusun Pasaranyar, Desa Kalipait, kami pun disambut dengan baik. Pak Pomo kemudian mengutarakan niat saya yang ingin bermalam dirumah Ibu Juadi. Saya dipersilakan melihat kamar yang biasa digunakan untuk tamu. Jika berkenan dengan kamar itu, Ibu Juadi tidak mempermasalahkan saya tinggal di sana malam itu. Memang kamarnya sangat sederhana, tapi menurut saya itu sudah lebih dari cukup daripada saya kemalaman di hutan.

Memang antara saya dan Ibu Juadi tidak ada deal harga untuk biaya menginap saya malam itu. Tapi menurut penjelasan Pak Pomo, biasanya tamu yang menginap di rumah warga seperti ini membayar Rp 100.000. Itu sudah termasuk sarapan di pagi hari. Untuk makan malam, Ibu Juadi menawarkan menu makan lalapan dan sambal (ayam goreng, telur goreng, atau ikan laut). Dalam kesehariannya, Ibu Juadi memang membuka warung makan tepat di depan rumahnya.

Setelah mandi dan makan malam, saya duduk santai di ruang tamu. Saya pun merasa heran, kenapa saat sudah malam seperti ini masih ada saja mobil-mobil bagus yang mengarah ke hutan. Pertanyaan saya tersebut akhirnya terjawab. Mereka pergi ke dalam Alas Purwo ada yang bertujuan melakukan sembahyang di pura bagi yang beragama Hindu, dan ada pula yang bersemedi mencari berkah atau apapun itu di goa-goa yang berada dalam hutan. Ya, inilah Alas Purwo, sebuah hutan fenomenal di Tanah Jawa yang sangat terkenal dengan mistis dan keangkerannya.

Tentu saja kali ini saya sangat bersyukur dan mengucapkan terima kasih banyak kepada Pak Pomo yang telah banyak membantu dan Ibu Juadi yang bersedia menerima saya untuk tinggal satu malam di rumahnya.

21 thoughts on “Jelajah 4 Taman Nasional di Jawa Timur Part 2: Bingung Mencari Penginapan di Alas Purwo”

    1. halah ngapusi nggak ada yng mengerikan di purwo, saya blusukan dengan istri dan putri kecilku sampai malam di purwo, cuma ban bocor yang mengerikan

      1. nggak akan mengerikan om kalau udah sering sih. saya pun begitu keesokan harinya keliling purwo juga nggak ada kesan ngeri. cuma kalau masih pertama kali ya agak-agak gimana gitu, apalagi cerita menyeramkan alas purwo udah masuk ke level tertinggi. hahaha 😆

  1. wih untung ya msh nemu homestay,

    kjadian mirip pernah sy alami wktu di daerah gn kelud, saved by a ranger

    lanjott part 3 broo

  2. aman ommm…sampai malam, apalagi yang keperluan nyadran hari2 tertentu rame sekali, yng dikawatirkan cuma ban ban bocor (pernah mengalami) di pertengahan hutan plus jalan masih rusak berat + malam hari (gara2 ptri kecil asik main di ngagelan sampai malam)
    kalo mau nginap murah dan vasilitas bagu bisa mampir ke jajg dulu (dekat rumahku) banyak hotel kira2 5 km dari pertigaan benculuk

      1. sekitar 32km, srono -beculuk-purwoharjo-tgldlimo-purwo
        Jajag dekat benculuk, sekarang rame Tour the Ijen. start dari jajag etape 2

  3. Haha…q yg asli org bwi malah lum kesitu pernah jg dl hampir mau kesn tp tmn g mau padahal sdh Hampir nyampe hbs dr rmh tmn
    Skg refot dah g stay di BWI
    manteb tp bro cadas bs kliling2 adventur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *