Jelajah 4 Taman Nasional di Jawa Timur Part 4: Menembus Meru Betiri hingga Sukamade

Menelusuri Taman Nasional Alas Purwo dalam Jelajah 4 Taman Nasional di Jawa Timur memang mengesankan. Tapi saya harus meninggalkan Taman Nasional Alas Purwo dan melanjutkan perjalanan ke Sukamade yang berada di dalam Taman Nasional Meru Betiri.

Pada dasarnya Taman Nasional Meru Betiri memiliki dua spot utama yang bisa dijelajahi, yaitu Sukamade yang berada di sisi Banyuwangi dan Bandealit di sisi Jember. Keduanya sama-sama menarik dengan ciri khas berbeda. Sukamade terkenal sebagai tempat bertelur bagi empat jenis penyu, sedangkan Bandealit memiliki pesona pantai yang cantik dengan pasir yang hitam kasar. Tentu saja Sukamade akan saya jelajahi terlebih dahulu karena masih berada di wilayah Kabupaten Banyuwangi dan jaraknya tidak terlalu jauh dari Taman Nasional Alas Purwo.

Dari tempat saya menginap di Pasaranyar, dusun terakhir sebelum masuk Taman Nasional Alas Purwo, saya mengajak Si Belalang Tempur menuju pintu masuk Taman Nasional Meru Betiri di Rajegwesi melalui Desa Sumberasri, perkebunan PTPN XII, Pesanggaran, dan Sarongan.

Memang tidak banyak petunjuk arah dari Taman Nasional Alas Purwo menuju Rajegwesi/Sukamade. Tapi dengan GPS semua menjadi mudah. Alternatif lain bisa bertanya ke penduduk setempat mengenai jalan menuju Pulau Merah, Pesanggaran, Rajegwesi, atau Sukamade. Keempat tempat itu berada dalam satu arah. Jika penduduk tidak tahu salah satunya, bisa tanyakan spot yang lainnya tersebut.

Jalan yang saya lewati dari Pasaranyar menuju Taman Nasional Meru Betiri ini relatif baik dengan kondisi jalan mulus meski tidak lebar. Jalan mulus itu kemudian berubah menjadi jalan yang hancur rusak parah saat tiba di lokasi perkebunan karet dan coklat milik PTPN XII. Jalan di PTPN XII ini kalau saya bilang adalah jalan semi off road karena hanya berupa bebatuan kasar yang sangat tidak nyaman. Kondisi jalan seperti ini akan terus berlanjut hingga ke Kecamatan Pesanggaran (Sarongan dan Rajegwesi).

Sebenarnya jarak dari Pasaranyar menuju Rajegwesi tidak terlalu jauh. Di GPS saya kalau tidak salah ingat sekitar 55-60 kilometer saja. Jarak sejauh itu saya tempuh dalam waktu 1 jam dan 45 menit. Lumayan menyiksa terutama jalanan setelah PTPN XII tersebut.

Jika om dan tante datang dari Banyuwangi, bisa mengambil rute Banyuwangi-Genteng-Jajag-Pesanggaran-Rajegwesi. Sedangkan jika dari Jember juga sama saja, Jember-Genteng-Jajag-Pesanggaran-Rajegwesi.

Sebelum tiba di Pos Rajegwesi Taman Nasional Meru Betiri, saya berhenti sejenak di Pantai Sungapan, sebuah pantai berpasir putih yang cukup sepi. Sesampainya di Pos Rajegwesi saya perlu melapor ke petugas, mengisi buku tamu, dan membayar tiket masuk. Sama seperti Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Alas Purwo, tiket masuk Taman Nasional Meru Betiri ini adalah Rp 5.000 per orang ditambah dengan Rp 5.000 per motor.

IMG_20141011_134806

Setelah membayar karcis masuk, saya tidak langsung berangkat menuju Sukamade yang berjarak masih sekitar 12 kilometer lagi dari Pos Rajegwesi ini. Saya ngobrol-ngobrol terlebih dahulu dengan petugas di pos itu sembari beristirahat sejenak mengusir rasa lelah. Di sana saya juga berkenalan dengan Mas Eko, salah seorang ranger atau petugas Taman Nasional Meru Betiri di Sukamade yang sedang keluar ke Rajegwesi. Dari obrolan kami itu kemudian saya ketahui bahwa penginapan di Pantai Sukamade sudah habis alias sudah dipesan semua. Mas Eko mengatakan bahwa pengunjung Sukamade pada hari ini cukup ramai sehingga seluruh kamar sudah terisi penuh. Mas Eko menyarankan saya untuk tidur ngemper di mushola saja, apalagi saya membawa sleeping bag dan mushola juga cukup luas untuk tidur yang hanya satu malam.

Jumlah kamar penginapan yang ada di Pantai Sukamade memang tidak banyak. Om dan tante sebaiknya memesan terlebih dahulu untuk kepastian mendapatkan kamar. Harga kamar di Pantai Sukamade ini dipatok dengan besaran antara Rp 200.000 hingga Rp 300.000 saja per malam sudah termasuk makan malam dan makan pagi kalau saya tidak salah ingat. Alternatif lain adalah menginap di Wisma Perkebunan dengan jarak 5 kilometer dari pantai. Ada juga rumah-rumah penduduk (homestay) yang bisa digunakan sebagai tempat bermalam di Desa Sukamade. Kendalanya adalah jarak yang cukup jauh, yaitu 5 kilometer. Hal ini sangat merepotkan karena di malam hari kita perlu datang ke pantai untuk berburu penyu yang sedang bertelur dan di pagi hari kita juga bisa datang lagi untuk melepas tukik ke pantai. Paling enak memang menginap di penginapan yang ada di Pantai Sukamade. Tapi jika sudah penuh, mushola pun tak jadi masalah.

Cukup lama kami berbincang di Pos Rajegwesi. Menjelang sore, Mas Eko ngacir terlebih dahulu ke Sukamade yang kemudian saya susul beberapa menit kemudian. Perjalanan dari Rajegwesi menuju Sukamade ini memang sungguh menguras tenaga dan benar-benar menguji motor yang digunakan. Bagaimana tidak? Jalanan yang dilewati adalah berupa jalan off road dan batu membelah hutan. Di separuh awal, kontur jalan lebih banyak berupa tanjakan dan tikungan-tikungan tajam. Sudah bisa dipastikan saya tidak bisa memacu Si Belalang Tempur dengan cepat di jalanan seperti ini. Dalam perjalanan ini saya melewati beberapa objek yang cukup menarik, seperti Pantai Rajegwesi, Teluk Damai, dan Teluk Hijau. Tapi objek-objek itu saya lewatkan terlebih dahulu dan langsung menuju Sukamade. Saya akan mampir di sana nanti saat perjalanan pulang.

IMG_20141011_150149

Di setengah perjalanan terakhir, kondisi jalan masih berupa jalan off road tapi menurun. Lagi-lagi motor tidak bisa dipacu kencang karena goncangan yang luar biasa bisa membuat badan remuk. Dan jika dipaksakan sangat mungkin membuat motor remuk pula. Tidak seperti di Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Alas Purwo, dimana saya masih bisa menemui berbagai binatang sepanjang perjalanan, di Taman Nasional Meru Betiri ini saya sangat minim melihat binatang-binatang itu. Kalaupun bertemu paling hanya kawanan monyet abu-abu yang memang banyak dimana-mana.

Setelah melewati jalan yang menurun, saya menemukan disambut dengan gerbang bertuliskan “Welcome to Sukamade-Meru Betiri National Park”. Artinya, saya sudah semakin dekat dengan tujuan saya. Benar saja, tidak jauh dari gapura itu ada persimpangan lengkap dengan petunjuk jalan. Lurus kurang lebih sejauh 10 kilometer adalah menuju Desa Sukamade, sedangkan jika belok kiri adalah menuju Pantai Sukamade dengan jarak 3 kilometer. Tentu saja saya mengambil jalan yang ke kiri dan ternyata jalan tersebut cukup seru juga. Saya harus menyeberangi sungai yang tidak terlalu lebar dan tidak terlalu dalam juga, mungkin hanya sebetis orang dewasa. Ya, inilah jalan paling cepat menuju Pantai Sukamade, kalau harus melewati Desa Sukamade perlu memutar terlalu jauh. Memang ada jembatan untuk menyeberangi sungai ini, tapi jembatan itu sudah lama rusak dan tidak pernah diperbaiki.

IMG_20141011_152327

Sungai yang sangat jernih itu pun berhasil dilalui, kemudian saya melewati kebun-kebun warga dengan melewati jalan berupa tanah dan berubah menjadi jalan pasir mendekati Pantai Sukamade. Di Pantai Sukamade ini terdapat kantin, jadi saya mengisi perut terlebih dahulu dengan makanan seadanya.

Sekedar informasi, jalan masuk-keluar Sukamade hanya cukup dilewati satu mobil saja. Ini bisa menjadi perhatian bagi om dan tante yang ingin ke Sukamade menggunakan mobil pribadi. Umumnya mobil-mobil yang mengangkut pengunjung berpenggerak ganda atau 4×4 karena medannya yang tergolong berat. Selain itu, mobil-mobil umumnya baru masuk ke Sukamade pada sore hari dan keluar dari Sukamade pada pagi hari. Jangan sampai om dan tante masuk ke Sukamade di pagi hari saat kebanyakan mobil keluar dari Sukamade. Kenapa? Di jalan nggak ada tempat lagi untuk berpapasan, berputar pun tak akan bisa. Otomatis salah satu mobil harus mengalah berjalan mundur hingga betemu tempat yang cukup untuk berpapasan. Nggak lucu sama sekali jika sudah sampai di tengah perjalanan harus mundur lagi hingga ke Rajegwesi dengan kondisi jalan seperti itu. Untuk motor sih nggak ada masalah ya. Mau bebek, skutik, atau sport oke semua. Tapi akan lebih nyaman jika menggunakan motor dual sport dengan ground clearance tinggi. Jika tidak, bagian bawah (mesin) motor akan sering nyangkut.

Nah, Pantai Sukamade ini merupakan tempat mendarat empat jenis penyu dari total enam jenis penyu yang ada di Indonesia. Penyu-penyu yang biasa mendarat di Pantai Sukamade antara lain penyu abu-abu atau lekang, penyu hijau, penyu sisik, dan penyu belimbing. Selain itu, di Pantai Sukamade juga terdapat tempat penetasan telur penyu semi alami. Telur-telur dari hasil bertelurnya penyu di pantai diambil untuk kemudian ditetaskan dalam sebuah kandang besar yang dibuat seperti di habitatnya. Setelah menetas, kurang lebih berumur 3-7 hari, anak penyu yang biasa disebut tukik dilepaskan kembali ke pantai.

IMG_20141011_163443

Sembari menunggu malam, saya menghabiskan waktu untuk ngobrol dengan Mas Eko maupun beberapa ranger yang ada di Sukamade. Sekitar pukul 8 malam, seluruh pengunjung Pantai Sukamade berkumpul, melakukan registrasi untuk mengikuti pencarian penyu yang bertelur di Pantai Sukamade. Untuk mengikuti acara ini, peserta diminta membayar Rp 100.000 per rombongan. Bagaimana kalau sendiri? Ya tetap membayar Rp 100.000 atau alternatif lain adalah membuat rombongan sendiri dengan pengunjung lain atau bergabung dengan rombongan lain. Saya sendiri kebetulan mendapatkan tambahan amunisi empat orang, jadi nggak perlu bayar Rp 100.000 sendirian.

Malam itu kami dengan dipandu para ranger bergerak menuju tepi pantai, menunggu penyu datang dan bertelur di pantai. Saat menunggu penyu datang tidak boleh ada cahaya, baik itu dari senter, HP, maupun sumber cahaya lainnya karena penyu sangat sensitif. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya ada juga penyu yang mendarat. Tapi sayangnya penyu itu tidak bertelur, hanya survei tempat saja. Kalau orang Jawa bilang memeti.

IMG_20141011_220228

Dari informasi yang saya terima dari ranger, malam itu sebenarnya ada sekitar tiga penyu yang mendarat. Tapi satu penyu lagi juga batal bertelur karena yang akan digunakan untuk bertelur sudah terkena air akibat laut pasang. Meskipun dalam satu malam mungkin ada beberapa penyu yang mendarat, namun penyu yang boleh diamati oleh pengunjung hanya satu ekor saja per malam. Kalaupun penyu yang diamati tidak jadi bertelur seperti kasus malam tersebut, ya tetap saja kita tidak diperbolehkan mencari penyu yang lainnya. Pengunjung harus meninggalkan pantai dan kembali ke penginapan walaupun tidak bisa melihat penyu bertelur. Namanya juga alam, tidak ada yang bisa menjanjikan kita bisa melihat penyu bertelur saat kunjungan kita.

Malam itu kami meninggalkan pantai tanpa bisa melihat penyu bertelur. Tidak apa-apa, mungkin saya bisa kembali lagi ke Sukamade di lani waktu untuk melihatnya. Saya pun segera tidur di mushola karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Perlu diperhatikan, sebaiknya membawa lotion anti nyamuk saat bermalam di Sukamade karena nyamuk yang ada di sini sangat ganas.

Pukul 5 pagi saya sudah bangun, mandi, dan shalat subuh. Sejam kemudian para pengunjung lainnya sudah datang dan bersiap melepaskan tukik-tukik di pantai. Untuk ikut melepas tukik bisa mendaftarkan diri di kantor yang ada di Sukamade. Pengunjung perlu memberikan donasi untuk pelepasan tukik ini. Namanya donasi ya monggo saja nominalnya ditentukan sendiri sepantasnya. Saya dan rombongan yang berjumlah lima orang kebetulan mendapatkan jatah melepas 10 ekor tukik.

DSC_0236

Tukik-tukik ini terlihat sangat lucu tapi juga lemah. Pelepasan tukik dilakukan sejauh 25 meter dari bibir pantai. Alasannya adalah agar tukik belajar berjalan menuju laut sesuai dengan instingnya. Mereka terus berusaha melangkah dari pantai menuju laut dengan bersusah payah. Jika terkena ombak, mereka akan terbalik dan kembali berusaha bangun. Predator seperti burung juga siap memangsa mereka setiap saat. Lemahnya tukik juga terlihat dari jumlah yang dilepas dibandingkan dengan jumlah yang hidup menjadi penyu dewasa. Menurut informasi, dari 1.000 tukik yang dilepas, mungkin hanya satu saja yang bisa bertahan hidup dan kembali lagi ke pantai ini untuk bertelur saat dewasa nanti.

11 thoughts on “Jelajah 4 Taman Nasional di Jawa Timur Part 4: Menembus Meru Betiri hingga Sukamade”

  1. jiah betul2 berpetualang, btw dari desa sarongan -kandang lemu (aspal terakhir sebelum offroad-persimpangan gerbang ptp) bisa ambil jalur kekiri dari arah sukomade, bisa tanya satpam, bisa telusuri hutan peg. merubetiri langsung tembus glemor sejauh 27 km, (tanpa melalui pesanggaran, jajag, genteng) hemat hampir 70 km, cuma jangan sendiri

  2. cuma jangan sendiri, saya pernah terperosok, motor masuk sungai, untung ada perambah hutan lewat yang menolong, kalo nggak ya jalan 25 km ke pos penjagaan tedekat

  3. sambung lagi
    kandang lembu(kendeng lembu)-glemor, melalui teblasala, disini sapi jawa/banteng dan rusa biasa “grassing”, juga melalui komplek pabrik kopi yng dibangun 1670 oleh belanda, sering kali banyak turis tua rombongan dari belanda dan belgia

    1. Saya pernah mendengar jalur ini yang langsung tembus ke Glenmore, tapi masih belum cukup yakin untuk melewatinya, jadi ya baliknya tetap berputar ke Jajag, Genteng. Padahal kalau ke arah Jember lewat jalur ini jauh lebih pendek ya rutenya.

  4. sungguh menarik mas cerita perjalanan nya, semoga nanti saya punya kesempatan untuk berkunjung kesini.
    Salam dari Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *