Jelajah 4 Taman Nasional di Jawa Timur Part 5: Masih di Meru Betiri, Keluar Sukamade dan Masuk ke Bandealit

Sukamade dengan berbagai pesona, khususnya dari penyu-penyu dan tukik, memang memberikan kesan yang sangat mendalam bagi siapa saja yang mengunjunginya. Ingin sekali rasanya lebih lama berada di Sukamade, tapi apa daya waktu kurang memungkinkan saya untuk berlama-lama di sana. Suatu saat nanti saya akan kembali lagi ke Sukamade.

Setelah melepas tukik-tukik ke Pantai Sukamade, saya sudah bersiap meninggalkan wilayah pedalaman Jawa Timur ini. Saya bergegas memacu Si Belalang Tempur keluar dari Sukamade menuju Rajegwesi sejauh kurang lebih 12 kilometer. Tentu saja saya kembali melewati jalur seperti saat keberangkatan, yakni berupa jalur off road yang cukup menantang plus melintasi sungai yang tidak terlalu dalam.

Dalam perjalanan keluar dari Sukamade ini saya sempatkan mampir ke Teluk Damai dan Teluk Hijau yang saat ini cukup populer di kalangan wisatawan domestik. Jika kita melintas dari arah Rajegwesi ke Sukamade maupun sebaliknya pasti akan melewati dua teluk ini.

Pada dasarnya Teluk Damai dan Teluk Hijau adalah dua objek yang menjadi satu kesatuan. Teluk Damai merupakan hamparan bebatuan bulat dan batu karang berukuran besar, lengkap dengan pepohonan rindang yang mengelilinginya. Sedangkan Teluk Hijau adalah sebuah teluk yang memiliki pemandangan berupa air laut berwarna hijau, dilengkapi dengan hamparan pasir putih dan air terjun setinggi 8 meter.

IMG_20141012_095230

Untuk sampai ke Teluk Hijau, saya harus trekking melalui jalan setapak yang naik-turun sejauh 1 kilometer. Pemandangan selama trekking ini cukup indah dan di sekeliling jalur trekking berdiri pepohonan yang sangat rimbun. Namun kita perlu sedikit waspada karena ada saja monyet abu-abu nakal yang siap mencuri barang bawaan, terutama makanan, kapan saja. Teluk Damai berjarak lebih dekat karena saat trekking menuju Teluk Hijau pasti akan melewati Teluk Damai. Berfoto serta bersantai di atas bebatuan dan di bawah pepohonan rindang bisa menjadi kegiatan menarik saat berada di Teluk Damai, sedangkan di Teluk Hijau kita bisa bermain pasir atau sekedar melihat aktivitas memancing dari penduduk setempat.

IMG_20141012_090337

Saya tidak berlama-lama di Teluk Damai maupun Teluk Hijau. Saya harus secepat mungkin keluar dari Taman Nasional Meru Betiri di sisi Banyuwangi ini. Saya kembali mengajak Si Belalang Tempur menuju ke arah Rajegwesi, Pesanggaran, dan keluar dari perkebunan karet dan coklat milik PTPN XII untuk selanjutnya menuju Bandealit, sebuah spot di Taman Nasional Meru Betiri yang berada di sisi Jember. Untuk menuju ke sana saya melewati Jajag, Genteng, Glenmore, Gunung Gumitir, Jember, Ambulu dan masuk ke Bandealit melalui Andongrejo.

Sekedar informasi saja, meskipun Sukamade dan Bandealit sama-sama berada di dalam area Taman Nasional Meru Betiri, namun tidak ada jalan pintas untuk kendaraan yang menghubungkan keduanya. Bagi yang gemar trekking bisa saja menelusuri jalur di tengah hutan sejauh 27 kilometer. Perlu waktu sekitar tiga hari untuk trekking dari Sukamade ke Bandealit. Itupun untuk ukuran seorang ranger. Bagi yang tidak biasa ya dipastikan lebih lama lagi.

Lanjut… Ntah berapa kilometer saya harus menempuh perjalanan dari Sukamade ke Bandealit. Saya tidak begitu memperhatikan. Sebenarnya dari perkebunan PTPN XII ada jalan tembusan menuju Glenmore tanpa perlu melalui Jajag dan Genteng. Tapi konon rute ini sangat sepi karena terus melintasi hutan dengan jalur off road yang cukup sulit. Berbekal pengetahuan yang minim, saya memutuskan untuk tidak menggunakan jalur tembusan meski jalur ini jauh lebih pendek. Saya lebih memilih jalur normal meskipun harus memutar lumayan jauh.

Seperti perjalanan saat berangkat, dari Sukamade, Rajegwesi, dan Pesanggaran jalur yang dilewati tergolong sangat buruk. Tapi jalur yang buruk itu berubah menjadi mulus setelah keluar dari area perkebunan PTPN XII. Menuju ke arah Jajag dan Genteng, jalan yang dilewati cukup mulus walaupun tidak lebar. Jalan ini relatif sepi sehingga Si Belalang Tempur bisa dipacu agak ngebut. Dari Genteng menuuju Glenmore, Gunung Gumitir, dan Jember, tentu saja jalannya sudah jauh lebih lebar dan lebih ramai karena ini adalah jalan utama yang menghubungkan antara Banyuwangi dan Jember.

Dari Kota Jember saya mengarahkan Si Belalang Tempur ke Ambulu yang berjarak sekitar 25 kilometer. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Andongrejo sejauh 20 kilometer. Andongrejo adalah desa terakhir sebelum sampai di Bandealit, sementara jarak dari Andongrejo ke Bandealit masih cukup jauh, mencapai 14 kilometer. Rute terakhir Andongrejo-Bandealit inilah yang benar-benar menguras tenaga. Memasuki kawasan Taman Nasional Meru Betiri saya dihadapkan pada jalan tanah yang lengkap dengan bebatuan. Kadang ukuran batu yang disebar di jalan juga nggak kira-kira. Kondisi jalan seperti ini menurut saya lebih parah daripada kondisi jalan ke Sukamade.

IMG_20141011_150136

Dalam perjalanan ke Bandealit saya tidak menemukan binatang-binatang liar. Ntah ke mana binatang-binatang itu. Tapi saya sempat mencari Bunga Raflesia yang menjadi salah satu ikon di hutan Meru Betiri dan saya menemukannya walaupun berukuran cukup kecil.

Setelah menempuh perjalanan yang sangat menguras waktu dan tenaga, akhirnya saya sampai juga di Bandealit. Rasa lelah itu akhirnya terobati saat melihat keindahan pantai yang ada di sana. Pasir di Pantai Bandealit memang tidak cukup putih, malah cenderung hitam seperti pasir di Pantai Parangtritis, Jogja. Tapi itu tidak mengurangi keindahannya. Selain pantai yang cantik, objek lain yang bisa dikunjungi di Bandealit adalah Goa Jepang. Sayangnya saya tidak sempat dan juga sedikit malas untuk mencarinya.

Pantai Bandealit

Berada jauh di pedalaman Jawa Timur tidak membuat Bandealit kekurangan fasilitas. Di Bandealit terdapat pondok wisata, camping ground, tempat parkir, dan fasilitas MCK. Namun berdasarkan pandangan saya, fasilitas di Sukamade tampak lebih baik daripada di Bandealit.

Setelah mempertimbangkan berbagai hal, saya membatalkan rencana menginap di Bandealit. Tidak lama setelah sampai di Bandealit saya keluar lagi dari tempat ini, meninggalkan Taman Nasional Meru Betiri menuju ke Kota Malang. Melihat waktu yang masih sore, saya cukup optimis bisa sampai di Malang sebelum tengah malam.

Dari Bandealit saya melewati jalan seperti saat berangkat hingga Ambulu. Tapi dari Ambulu saya tidak kembali ke Kota Jember, melainkan melalui jalan pintas yang langsung tembus ke Tempeh. Dalam hal ini saya juga tidak melewati Kota Lumajang. Jalan yang dilewati ini cukup sepi, tidak terlalu lebar, tapi mulus.

Perjalanan paling menarik dan menantang adalah dari Tempeh menuju Dampit, di mana saya harus melewati lereng Gunung Semeru. Malam itu Gunung Semeru terlihat gagah dengan disinari terang rembulan. Kepulan asap juga tampak keluar dari gunung tertinggi di Pulau Jawa itu. Terus terang saja saya belum pernah melewati jalur ini yang ternyata sangat panjang. Awalnya memang seru melintasi jalan mulus penuh tikungan, tanjakan, dan turunan, tapi lama-lama menjadi sangat membosankan. Mirip sekali seperti jalur selatan Bandung-Tasikmalaya. Selain itu, pengendara roda dua juga sangat perlu berhati-hati, terutama di tikungan, karena sepanjang jalan ini banyak truk memuat pasir. Ceceran pasir dari truk ini berpotensi menyebabkan pengendara roda dua tergelincir.

Prediksi saya ternyata benar, sebelum tengah malam saya sudah sampai di Kota Malang. Saya sempat berkeliling sebentar mencari penginapan. Akhirnya saya mendapatkan penginapan di Hotel Emma yang berada di Jalan Trunojoyo No. 21, Malang. Lokasinya persis di depan toko jersey Arema. Sekitar hotel ini juga sangat ramai karena banyak cafe-cafe, warung makan, dan resto berjejer sepanjang jalan. Nuansa seperti ini mengingatkan saya dengan Poppies Lane di Bali, Jalan Jaksa di Jakarta, dan Jalan Sosrowijayan di Jogja.

Oh ya, tarif kamar di Hotel Emma ini tergolong murah, mulai dari Rp 145.000 hingga Rp 250.000, tergantung dari fasilitas di dalam kamar. Saya memilih kamar termurah saja, itupun fasilitasnya sudah cukup baik dan kondisi kamar tergolong bersih. Ada tempat tidur berukuran besar, TV, exhaust fan, kamar mandi dalam, dan sudah termasuk sarapan. Sarapannya sendiri memang sederhana, hanya berupa snack atau jajanan pasar dua potong dan dua gelas teh manis. Lumayan lah untuk mengganjal perut.

Malam itu akhirnya saya bisa beristirahat dengan nyenyak setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan. Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya akan menempuh perjalanan yang panjang, mulai dari Sukamade, Jember, Bandealit, Tempeh, Dampit, hingga Malang. Saya juga tidak menghitung berapa jarak tempuhnya, mungkin bisa mencapai 400 kilometer. Padahal berdasarkan rencana awal, saya akan stay satu malam di Bandealit, kalaupun tidak ya stay di Jember. Tapi malah bablas sampai Malang.

Oh ya, saya mohon maaf untuk etape kali ini tidak banyak foto. Baterai kamera dan HP yang sudah beberapa hari tidak diisi habis setelah keluar dari Teluk Hijau. Sebenarnya saya bisa saja melakukan charging baterai HP di soket power yang terpasang di motor, tapi itu tidak saya lakukan. Mungkin faktor stres akibat jalan yang buruk dan kelelahan menjadi pemicu saya malas mengambil gambar. Saya lebih banyak menikmati dan menyimpan memori perjalanan ini di otak saya.

IMG_20141012_085459

9 thoughts on “Jelajah 4 Taman Nasional di Jawa Timur Part 5: Masih di Meru Betiri, Keluar Sukamade dan Masuk ke Bandealit”

  1. Buset keren bro…byuh jan manteb top markotop solo touring mulai dr sukomade jek sempet mapir bandealit sampe malang lewat jalur selatan beh jan salut bro…klo boleh tau jam brp tu start dr sukomade…
    Cs q tau bener jalur2 itu sukomade or bandealit jan menguras tenaga apalg ditambah ke malang lwt jalur selatan hehe lewatanq tiap plg dl soalnya wkt di field

    1. Dari Bandealit sekitar jam 5 sore om, mau nginep Jember nanggung jadi bablas aja lah sampai Malang. Mungkin dari Bandealit ke Malang via jalur selatan sekitar 250 kilometer yak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *