Jelajah 4 Taman Nasional di Jawa Timur Part 6: Dari Malang Menembus Bromo via Tumpang (Selesai)

Well.. Ini adalah etape terakhir dalam perjalanan “Jelajah 4 Taman Nasional di Jawa Timur”, apa lagi kalau bukan menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Saya memang sudah berkali-kali ke Bromo, tapi tempat ini tidak pernah membosankan dan membuat saya ingin kembali lagi, khususnya jika mengingat jalur bebas yang sangat seru saat menembus lautan pasir Bromo.

Perjalanan menuju Bromo ini dimulai dari Hotel Emma tempat saya menginap di Kota Malang pada etape sebelumnya. Pada etape terakhir ini saya tidak terburu-buru, malah cenderung sangat santai. Saya berangkat dari Malang sekitar pukul 11 siang, mengajak Si Belalang Tempur menuju Bromo melalui jalur Tumpang, Gubuk Klakah, Ngadas, dan Jemplang.

Dari Malang menuju Bromo sebenarnya memiliki dua jalur, yaitu melalui jalur Nongkojajar-Tosari dan Tumpang-Ngadas yang saya lalui ini. Tapi menurut saya, jalur Tumpang-Ngadas yang juga satu arah untuk menuju jalur pendakian Gunung Semeru ini jauh lebih indah, lebih seru, dan lebih menantang.

Karena ini etape terakhir sebelum saya pulang ke Surabaya, jadi saya cukup santai saja memacu Si Belalang Tempur. Perjalanan relatif lancar dengan kondisi jalan yang mulus. Mulai dari Tumpang hingga Gubuk Klakah, jalur yang dilewati mulai menanjak. Tapi jalur ini masih berupa aspal mulus yang tidak terlalu lebar.

Perjalanan kemudian dilanjutkan dari Gubuk Klakah menuju Ngadas. Pemandangan pada rute ini sangat indah. Beberapa kali saya berhenti untuk memotret pemandangan berupa perkebunan warga di lereng pegunungan yang sangat menawan. Di sini saya juga melewati objek wisata yang cukup terkenal, Coban Pelangi. Tapi saya nggak mampir, mungkin di lain waktu saja.IMG_20141013_121808

Setelah melewati Coban Pelangi, saya menemukan tikungan dan tanjakan yang lumayan ekstrim. Dengan lebar jalan yang hanya 3-4 meter, perlu kehati-hatian saat melewati tikungan parabolik dengan kemiringan 30-45 derajat dan sudut tikungan yang nyaris 360 derajat. Kemampuan motor memang cukup diuji di jalur ini. Sebenarnya ini juga bukan jalur yang asing buat saya. Saya pernah melalui jalur ini saat ke Bromo beberapa waktu yang lalu (baca: Serunya Menjelajah dan Bermain-Main di Lautan Pasir Bromo). Tapi saya melewati jalur ini dalam perjalanan ke arah Malang. Tentu itu jauh lebih mudah karena kondisi jalan menurun.

Jika sukses melewati tikungan parabolik itu om dan tante jangan senang dulu, karena di depan masih menanti jalur panjang yang terus menanjak. Ditambah lagi kondisi jalan yang berupa balok-balok cor-coran semen yang sebagian sudah rusak membuat kita tidak bisa mempersiapkan diri memacu motor dengan cepat. Si Belalang Tempur sih santai saja melewati tanjakan seperti ini. Tidak bisa cepat, asalkan pelan tapi pasti. Banyak para pendaki Gunung Semeru yang berboncengan menggunakan skutik melewati jalur ini dan ternyata tidak kuat. Pengguna motor sport saja mengalami hal serupa jika salah perhitungan.

Mendekati Jemplang kondisi jalan sudah jauh lebih bagus berupa jalan aspal yang mulus tapi ya tetap nanjak lah. Nah, Jemplang ini merupakan sebuah persimpangan, di mana jika mengambil jalur kiri menuju Gunung Bromo, sedangkan jika ke kanan menuju Ranu Pane (tempat start pendakian Gunung Semeru) dan ke arah Lumajang melalui Senduro. Di lain waktu sepertinya saya tertarik untuk melewati jalur dari Jemplang ke Lumajang via Senduro ini.

Oh ya, saat melewati pos penjagaan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru kita perlu membayar tiket masuk sebesar Rp 27.500 per orang saat weekday dan Rp 32.500 per orang saat weekend untuk menuju Bromo. Sedangkan untuk motor ditarik retribusi sebesar Rp 5.000. Kebetulan saya ke Bromo di hari Senin, artinya saya hanya perlu membayar total Rp 32.500. Waktu itu petugas meminta saya membayar Rp 35.000, saya tidak mengecek angka yang tertera pada karcis, saya juga tidak hafal harga tiket masuk ke Bromo, jadi saya percaya saja dengan menyodorkan uang Rp 36.000 karena tidak ada uang pas. Petugas itupun cuek-cuek saja dan tidak memberikan kembalian untuk saya. Dalam hati saya berkata, mungkin memang tidak ada uang receh untuk kembalian. Sesampainya di rumah saya cek ternyata tiket hanya Rp 27.500 dan motor Rp 5.000. Benar, saya mestinya bayar Rp 32.500 saja. Rupanya mental korupsi sudah sampai pada petugas level bawah sekalipun. Bukan masalah nominal uangnya. Uang Rp 3.500 memang nggak banyak, paling cuma cukup untuk parkir di tempat wisata. Tapi attitude sepertinya semestinya tidak boleh terjadi. Semoga berkah untuk istri dan anakmu pak!

IMG_20141013_122325

Di Jemplang saya berhenti sejenak untuk mengambil beberapa foto. Sepertinya cuaca siang itu sedang tidak bagus karena kabut yang cukup tebal dan membuat jarak pandang tidak terlalu jauh. Beruntunglah bagi om dan tante yang akan ke Bromo melalui jalur ini karena Jemplang adalah titik tertinggi, sehingga nggak ada lagi jalur tanjakan ke arah Bromo. Sekedar informasi, jarak dari Malang hingga Jemplang adalah sekitar 50 kilometer, sementara dari Jemplang sampai Bromo masih 7 kilometer lagi. Walaupun cuma 7 kilometer tapi jangan remehkan jalur yang terakhir ini ya. :mrgreen:

Lanjut.. Dari persimpangan Jemplang ini perjalanan dilanjutkan ke arah kiri menuju kaldera Gunung Bromo. Kita mesti sangat berhati-hati di jalur ini karena jalan yang awalnya terbuat dari balok cor-coran sudah berubah menjadi jalan yang full off road. Jalur menurun dan dalam kondisi rusak parah. Ditambah lagi kontur jalan tertutup pasir tebal yang gembur membuat rider bisa dengan mudah tergelincir. Tapi itulah seninya riding ke Bromo, harus siap dan sigap riding di atas jalan berpasir. Kalaupun jatuh paling ya gitu doang, soalnya nggak bisa ngebut. Paling apes ketimpa motor lah. :mrgreen:

Hari itu sama sekali tidak terlihat keramaian pengunjung yang akan menuju Bromo. Kemungkinan pengunjung hari itu memang tidak banyak. Selain karena hari sudah siang, kebetulan itu adalah hari Senin, waktu yang kurang jamak untuk melakukan liburan, khususnya bagi wisatawan lokal. Kita semua paham lah, kebanyakan pengunjung Bromo adakah sunrise hunter yang datang di malam hari atau menjelang pagi dan pulang saat siang.

IMG_20141013_123415

Tidak terlalu lama berjalan, saya sampai di Savana Bromo yang dikenal pula dengan sebutan Bukit Teletubbies. Menurut saya, ini adalah bagian terindah yang dimiliki oleh kawasan wisata Gunung Bromo. Saat sepanjang mata memandang hanya terlihat lautan pasir gersang tanpa ada tumbuhan yang hidup, Padang Savana tampak berbeda dalam balutan warna hijau yang tampak lebih segar. Tentu saja tidak afdol kalau tidak berhenti untuk foto-foto. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju ke arah Pura Poten dan kaldera Gunung Bromo melalui lautan pasir yang sangat luas. Dalam perjalanan ini nantinya juga melewati spot yang cukup terkenal, Pasir Berbisik.

Riding seorang diri di lautan pasir Bromo yang sangat sepi membuat saya cukup merinding juga. Dari Padang Savana ke Pura Poten/Gunung Bromo yang biasanya terasa dekat saat ramai, seakan-akan menjadi sangat jauh dan ditempuh dalam waktu yang lama. Ingin membuka gas dalam-dalam? Siap-siap saja pasir yang gembur bisa membanting motor setiap saat. Memang riding menggunakan motor dual sport seperti Kawasaki KLX 150L di lautan pasir masih cukup enak. Saya masih bisa memacunya hingga kecepatan 40 kilometer/jam. Itupun dengan ekstra waspada dan pintar-pintar memilih jalur yang pasirnya tidak terlalu gembur. Saat musim kemarau seperti sekarang ini membuat pasir di Bromo sangat gembur, berimbas pada sulitnya berkendara di sana. Yang saya takutkan cuma satu, motor mogok atau rusak di tengah lautan pasir sepi seperti ini siapa yang akan nolong? 😀

IMG_20141013_125211

Nah, dari kejauhan sudah mulai terlihat aktivitas sebuah mobil Toyota Land Cruiser warna merah di Pasir Berbisik. Nggak pakai mikir, langsung deh geber Si Belalang Tempur sampai 50 kilometer/jam dengan terpontang-panting untuk mendekatinya. Belum juga mendekat, mobil itu sudah pergi ke arah Pura Poten. Ya sudahlah biarkan saja, sayapun tetap berusaha maintain speed bahkan berusaha meningkatkannya lagi dalam perjalanan menuju Pura Poten ini. Bermain-main dengan speed di lautan pasir memang sangat menyenangkan, tapi tentu saja tenaga akan lebih cepat terkuras. Riding di lautan pasir juga cukup tricky. Saat speed tinggi kita berupaya keras menjaga keseimbangan agar tidak terbanting, tapi kalau terlalu lambat ban motor akan kehilangan torsi dan malah ambles.

Sesampainya di Pura Poten saya lagi-lagi nggak tertarik naik ke kaldera Bromo dan mempertimbangkan untuk langsung pulang ke Surabaya. Menurut rencana awal sih saya pulang ke Surabaya melewati jalur Tosari-Pasuruan, namun rencana itu saya ubah. Kenapa? Perjalanan dari Pura Poten melewati lautan pasir ke jalan aspal menuju Tosari masih cukup jauh. Apalagi pengunjung Bromo siang itu benar-benar sangat sepi dan cuaca sangat gelap berkabut. Paling hanya ada 2-3 mobil Toyota Land Cruiser di dekat kaldera dan pengunjung yang menggunakan motor bisa dihitung dengan jari. Akhirnya balik kanan saja balik ke Surabaya melalui jalur Cemoro Lawang, Sukapura, Tongas, Pasuruan, hingga sampai di Surabaya. Rute ini memang lebih jauh, tapi lebih ramai dan lebih minim resiko. Selain itu, jalur lautan pasir yang dilewati juga lebih pendek.

Dengan berakhirnya etape ini, maka berakhir pula perjalanan dengan tajuk “Jelajah 4 Taman Nasional di Jawa Timur” ini setelah menjelajahi Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Alas Purwo, Taman Nasional Meru Betiri (Sukamade) dan Taman Nasional Meru Betiri (Bandealit), serta terakhir Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Memang tidak semua spot di keempat taman nasional itu saya datangi, namun paling tidak saya sudah merasakan sendiri dan tahu karakteristik dari masing-masing taman nasional tersebut.

Dari keempat taman nasional itu, saya paling suka dengan pemandangan kehidupan liar di Savana Bekol Taman Nasional Baluran. Sedangkan jalur yang paling sulit dilalui menurut saya adalah saat menembus Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, karena merupakan kombinasi antara tanjakan tinggi, tikungan ekstrim, jalan jelek, dan yang paling melelahkan adalah saat melalui lautan pasir, benar-benar menguras tenaga. Tapi secara keseluruhan, semuanya mantap dan sangat layak dijelajahi!

23 thoughts on “Jelajah 4 Taman Nasional di Jawa Timur Part 6: Dari Malang Menembus Bromo via Tumpang (Selesai)”

  1. jalur ranu pane-jemplang- saat gerimis kabut datang, kita seperti riding diatas awan, saat turun ke lautan pasir seperti masuk ke negeri awan, betul2 seperti masuk alam lain, ngeri2 asyik

  2. ke Senduro via Ranu Pani mesti extra nyali bro apalagi klo sendirian, menurut warga sekitar 20km ditempuh lewat hutan, jalan jg ala kadarnya dibanding rute coban trisula-ngadas…..mmg belum dengar cerita2 kriminal / horor, tp kewaspadaan itu penting ….. cm katanya emg bagus view nya ……saya jg planing kesana

    oh ya, sy jg serin kesini pas office day, emg gak ada petugas, kemaren sempat ketemu malah ngobrol2 gak ditarik tiket 😀

    Emg jalur ke kiri setela Pos ini agak mengkhawatirkan, bnyak biker yg nyungsep karena beton hancur+pasir licin, apalagi yg datang dr arah bromo ke ngadas, motor harian pasti rawan kepentok mesin, pas kapan tu ada yg pake V*x**n, C*150SF dan S4tr*a pada limbung semua, apalagi Matic …….dengar2 akan ada aturan semua motor matic dr arah tumpang mesti stop di coban trisula krn sering terjadi kecelakaan karena rem bermasalah

  3. hehehe… enak banget mas banyak waktu luang buat beradventure ria. btw dr jemplang ke bukit teletubies hati2 aja, beberapa bulan lalu sempat dikuntit orang, perasaan jadi gak enak pas berhenti dan mematikan lampu yg nguntit juga berhenti mematikan lampu. akhirnya tertolong dr warga sekitar yg kbetulan lwat dan baru tau juga ada di bukit teletubies ada orang sembunyi bw motor. Setelah sampe ke homestay brsama warga yg nolongin, kjadian td dilaporkan ke orang2 di depan parkiran jeep landcruiser.

  4. masnya mau ke senduro lewat ranu pani?
    semoga baik baik saja mas, jalannya hancur lebur.
    hehe
    setelah ke senduro sampean bisa lanjut ke B29, lihat lihat laut pasir dari sisi lumajang.
    jozzz

    1. Motor biasanya seperti apa? Sebaiknya pakai motor dengan ground clearance tinggi. Kalau nggak sih bakal repot, mesin rawan nyangkut, terutama di jalur antara jemplang hingga savana atau sebaliknya.

  5. Pernah lewat jalur itu pakai pulsar, pas pulang ke malang hujan deras pula… Ngeri – ngeri sedap.
    Kalo soal merinding sepakat kang. Heheheh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *