Riding Akhir Pekan.. Jalan-Jalan ke Coban Kembar Watu Ondo di Pacet

Akhir pekan memang menjadi waktu yang sangat pas digunakan untuk bermain-main dengan motor kesayangan. Akhir pekan lalu saya mengajak Si Belalang Tempur ke daerah pegunungan yang cukup adem, tepatnya di kawasan Pacet, Mojokerto.

Saya sengaja berangkat dari Surabaya saat masih pagi, biar nggak terhalang macet. Umumnya pada Minggu pagi lalu lintas yang mengarah keluar Surabaya agak padat. Nggak heran sih karena mereka memanfaatkan akhir pekan untuk liburan ke berbagai tempat, seperti ke Pacet, Trawas, Tretes, dan Batu.

Perjalanan dari Surabaya menuju Pacet pagi itu tergolong sangat lancar. Baik itu saat keluar Surabaya melalui Bundaran Waru, melintas Krian, Mojosari, hingga sampai di Pacet, semua lancar!

Karena tujuannya adalah untuk melihat Coban Kembar Watu Ondo, maka dari Pacet Si Belalang Tempur diarahkan menuju Batu. Letak air terjun yang satu ini memang berada di perlintasan antara Pacet dan Batu, searah juga dengan pemandian air panas Cangar.

Coban Kembar Watu Ondo terletak di area Taman Hutan Raya Raden Suryo, lereng Gunung Arjuno, atau tepatnya di Dusun Sendi, Desa Pacet, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Jarak dari Pacet hingga ke Coban Kembar Watu Ondo memang nggak jauh, hanya sekitar 8 kilometer dengan kondisi jalan aspal yang mulus dan bisa dilalui oleh motor maupun mobil. Tapi justru 8 kilometer ini yang cukup mendebarkan. Letaknya yang berada di lereng Gunung Arjuno membuat jalur yang dilewati cenderung menanjak dan berliku. Di beberapa spot bahkan ada kombinasi tikungan dan tanjakan curam. Tidak perlu menggeber gas dalam-dalam, cukup riding santai sambil menikmati pemandangan alam cantik dan udara yang sangat sejuk.

IMG_20141026_065645

Memasuki wilayah Taman Hutan Rakyat Raden Suryo, kombinasi tikungan dan tanjakan semakin dahsyat. Tapi perlu diperhatikan juga, jangan menggeber motor terlalu kencang. Di hutan ini banyak monyet yang bermain-main di tepi jalan, terutama saat pagi hari. Jangan sampai mereka tertabrak, atau malah kita yang celaka karena kaget saat mereka melintas di jalan.

Untuk mencari lokasi Coban Kembar Watu Ondo juga cukup mudah, karena berada di sebelah kiri kalau dari Pacet ke arah Batu, dan di pintu masuk terdapat banner besar yang membentang sebagai penanda.

Saya sampai di lokasi Coban Kembar Watu Ondo terlalu pagi, jadi gerbang belum dibuka karena petugas belum datang. Tidak terlalu lama menunggu akhirnya sudah ada petugas yang datang. Pengunjung lain yang jumlahnya tidak banyak juga sudah mulai berdatangan. Ntah berapa tiket yang dikenakan untuk masuk ke Coban Kembar Watu Ondo ini. Yang jelas saya berdua ditambah dengan satu motor ditarik tiket masuk Rp 14.000.

Untuk menuju ke arah coban atau air terjun, kita perlu berjalan menuruni jalan setapak yang berupa anak tangga, terbuat dari susunan batu. Jalan menuju area air terjun memang sudah cukup bagus, sehingga memudahkan bagi para pengunjung. Di sepanjang jalan juga disediakan beberapa tempat duduk untuk beristirahat.

Kenapa disebut coban kembar? Kemungkinan besar karena di satu lokasi ini terdapat dua air terjun yang mengalir, meskipun kalau dilihat kedua air terjun ini tidak identik. Air terjun di sebelah kiri lebih tinggi (30 meter) dan memiliki debit air yang deras, sedangkan air terjun yang berada di sebelah kanan tidak terlalu tinggi (15 meter) dengan debit air lebih kecil. Konon, kedua air terjun ini berasal dari sumber yang berbeda. Nggak percaya? Buktikan saja sendiri. Air terjun yang tinggi jauh lebih dingin, sedangkan yang rendah airnya lebih hangat. Itu sih yang saya rasakan. :mrgreen:

DSC_0035

Nah, Coban Kembar Watu Ondo memang seru untuk mengisi liburan akhir pekan. Bersantai, menghirup udara segar, bermain air, bahkan hunting foto bisa menjadi kegiatan yang sangat menarik. Ada baiknya datang pagi-pagi saat pengunjung lain belum datang untuk mendapatkan foto terbaik.

Dari Coban Kembar Watu Ondo, saya melanjutkan perjalanan ke Batu untuk makan pagi merangkap makan siang. Saya malah baru tau kalau jarak antara Coban Kembar Watu Ondo dan Cangar sangat dekat. Kondisi jalan saat melewati Cangar ini masih saja menanjak. Yang perlu mendapatkan perhatian serius adalah tikungan dan tanjakan setelah Cangar. Tikungan tajam yang dikombinasikan dengan tanjakan curam ini memang yahud! Kalau kita nggak siap, bisa-bisa mesin motor ngedrop dan mungkin mati. Mana tanjakannya tinggi pula.

IMG_20141026_071142

Setelah keluar dari area Taman Hutan Raya Raden Suryo, pemandangan lebih banyak tersaji berupa perkebunan warga, baik itu perkebunan sayuran, apel, maupun jeruk. Pemandangan ini menarik, walau udara lebih panas dan jalur yang jauh lebih bersahabat.

Sampai di Batu saya langsung mencari warung makan, kemudian menuju Alun-Alun Batu untuk mencicipi Susu Ganesha yang sudah sangat terkenal itu. Gila, untuk mendapatkan susu saja saya mesti antre sangat panjang dan nggak ada lagi tempat duduk yang tersisa. Akhirnya cuma beli yoghurt yang sudah ada dalam kemasan, 4 botol Rp 28.000, lumayan enak dan praktis. Lumayan lah, yoghurt bisa membantu menghilangkan dahaga di Kota Batu yang kian panas, hampir mirip seperti Surabaya. Awalnya sih mau nyoba juga Ketan Legenda, tapi sayangnya belum buka. Ada yang tau Ketan Legenda buka jam berapa?

IMG_20141026_125226

Perut sudah kenyang, waktunya kembali ke Surabaya. Saya sengaja memilih lewat jalur seperti saat berangkat, dari Batu menuju Surabaya melalui Pacet, Mojosari, dan Krian karena lebih sepi dan udaranya sangat sejuk. Sedangkan kalau lewat jalur utama Lawang, Pandaan, Porong, Sidoarjo, Surabaya biasanya macet, panas, dan sangat menguras tenaga.

Dalam perjalanan pulang ini jalur yang pada pagi hari masih sepi menjadi cukup ramai. Dari arah Batu ke Pacet kondisi jalan cenderung menurun. Ada beberapa kali tanjakan, tapi itu tidak signifikan. Kalau berangkat melewati tanjakan yahud, tentu pulangnya harus siap dengan turunan yang curam. Oleh karena itu, kita harus ekstra waspada. Dari arah Batu, tepat sebelum Cangar, sempat ada rider Mio Soul yang sepertinya tidak bisa mengontrol motornya di turunan, hasilnya bablas ke jurang kecil, mungkin sedalam 2 meter. Motor dan ridernya terjun bebas ke perkebunan sayur milk warga. Rider oke, tapi motor mengalami kerusakan minor. Saya sempat juga melihat rider New Vixion Lightning (NVL) dari arah berlawanan yang mogok karena kehabisan kanvas kopling. Terakhir, saya melihat rider NVL (lagi) saat kondisi jalan menurun yang rem belakangnya mengunci akibat kepanasan.

Berkendara di area pegunungan seperti ini memang sangat tricky, tidak peduli apapun merk motornya. Saat kondisi menanjak, kopling rawan terbakar karena kita dipaksa bermain setengah kopling, sedangkan saat jalan menurun tajam rem dipaksa bekerja maksimal. Saya sempat mencium bau gosong pada Si Belalang Tempur saat perjalanan pulang ini. Bau itu saya yakini berasal dari rem yang terus bekerja keras. Tidak ingin rem mengunci, saya memanfaatkan engine brake dan menarik/menginjak rem dengan teknik kocok. Alhamdulillah nggak ada masalah rem nge-lock dan sampai kembali di Surabaya dengan selamat.

5 thoughts on “Riding Akhir Pekan.. Jalan-Jalan ke Coban Kembar Watu Ondo di Pacet”

  1. itu dari pacet bisa juga tembus tretes ya mas selain ke batu? wah jadi pengen ke batu lewat situ… biasa lewat jombang kandangan pujon terus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *