Minggu Pagi.. Ngajak Si Belalang Tempur Lava Tour di Lereng Merapi

Hari Minggu dikombinasikan cuaca yang sangat cerah memang sangat mendukung untuk riding bersama Si Belalang Tempur. Mumpung lagi di Jogja, nggak ada salahnya dong menyempatkan waktu bermain-main ke lereng Gunung Merapi, tepatnya di Kaliadem.

Mungkin om dan tante sudah banyak yang tahu kalau Kaliadem, tepatnya di Desa Kinahrejo kini menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Jogja, khususnya setelah Merapi meletus dahsyat di tahun 2010. Sebelumnya desa ini juga menjadi pintu gerbang andalan para pendaki ke Gunung Merapi karena jalurnya yang tergolong paling mudah. Tidak ketinggalan, Desa Kinahrejo sudah sangat terkenal dengan kuncennya yang bernama Raden Ngabehi Surakso Hargo atau Mbah Marijan, yang meninggal dunia akibat letusan pada tahun 2010 tersebut.

Memang Desa Kinahrejo terkena imbas paling besar akibat letusan karena posisinya yang tepat berada di kaki Gunung Merapi. Kini Desa Kinahrejo tidak lagi dihuni oleh warga. Seluruh warga sudah direlokasi ke tempat yang lebih jauh dari Merapi. Meskipun demikian, kondisi desa itu kini semakin bergeliat. Pariwisata malah semakin moncer dengan adanya konsep wisata “Lava Tour”. Kinahrejo sudah mulai menghijau dan sisa-sisa letusan Merapi masih ada, tapi menjadi objek wisata yang menarik.

Jarak dari Jogja ke Kaliadem sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 25-30 kilometer ke arah utara. Tidak sulit juga kok mencari Kaliadem, cukup mengarahkan Si Belalang Tempur ke arah Kaliurang. Selanjutnya, tinggal mencari petunjuk jalan ke arah Kaliadem atau Lava Tour. Banyak petunjuk jalannya jadi nggak perlu khawatir. Kalau bingung ya tanya warga, pasti tahu kok.

Untuk ukuran kawasan pegunungan, kondisi jalan ke Kaliadem ini tergolong mudah. Jalan aspal mulus sepanjang Jogja hingga Kaliadem, bahkan sampai di Desa Kinahrejo. Tanjakan sih pasti, tapi sangat biasa. Nggak ada tanjakan atau turunan curam. Nggak ada pula jalan berkelak-kelok yang cukup menyiksa seperti layaknya di Pacet, Jawa Timur. Motor skutik pun tidak akan kesulitan mencapai Kaliadem.

Saat memasuki kawasan Lava Tour, pengunjung dikenakan biaya retribusi sebesar Rp 3.000. Kabar bagus bagi om dan tante penunggang motor dual sport atau trail, motor Anda bisa melenggang dengan bebas ke area manapun di spot-spot wisata Kaliadem, termasuk rumah Mbah Marijan, petilasan Mbah Marijan, museum, Batu Tumpeng, Kali Opak, dan berbagai tempat lain asalkan motor dan fisik kuat.

Tentu saja ini sekaligus menjadi kabar buruk bagi rider motor sport, bebek, maupun skutik karena harus memarkirkan motornya di kantong parkir. Jalan menuju rumah Mbah Marijan, museum, dan lain-lain diportal. Bagaimana untuk menuju ke spot-spot wisata itu? Alternatifnya adalah jalan kaki, ngojek, sewa motor trail Kawasaki KLX 150, atau sewa mobil 4×4. Sebenarnya motor tipe apapun bisa mencapai spot-spot itu, tapi ini masalah perut, jadi ya harap memaklumi.

Bagi om dan tante yang ingin menikmati Lava Tour, tidak ada salahnya lho menyewa Kawasaki KLX 150 yang ada di sana. Untuk menyewa sudah ada paket-paketnya. Paling murah kalau nggak salah Rp 150.000. Itu sudah termasuk bahan bakar, helm, dan boots. Kalau om dan tante ingin blusukan, akan ditemani oleh pemandu. Tapi jalur yang dilewati juga standar, jalur off road biasa, bukan jalur yang ekstrem.

Saya sendiri niatnya pengen ngadem di Kaliadem, tapi ternyata malah panas bangett. Spot yang dikunjungi ya cuma museum, rumah Mbah Marijan, Batu Tumpeng, dan Kali Opak. Pemandangan di pagi hari memang dahsyat. Gunung Merapi terlihat sangat jelas tanpa tertutup kabut. Beda cerita kalau sudah siang, Merapi ngumpet. Sebaiknya memang datang pagi-pagi. Saya berangkat jam 9 saja sudah terlalu siang.

IMG_20141102_103824

Keluar dari Batu Tumpeng, celingak-celinguk, dipanggil sama seseorang di sebuah warung yang ternyata rider Kawasaki KLX 150 juga. Kamipun berkenalan, beliau adalah Pak Edi Buntoro, seorang yang juga gemar riding. Kami ngobrol banyak hal di warung itu, saling tukar cerita pengalaman riding masing-masing. Nice to meet you pak!

Setelah cukup siang, Pak Edi Buntoro pamit. Saya juga mengajak Si Belalang Tempur turun. Bukan untuk pulang, tapi melakukan petualangan selanjutnya. Dari portal saya belok ke kiri yang ternyata jalurnya off road, berupa jalan tanah yang dipadu dengan kerikil dan abu vulkanik bekas letusan gunung. Sudah terbayang dong debunya kayak apa. Keluar dari sini bisa jadi bule deh, apalagi harus berjibaku dengan truk pemuat pasir dan mobil-mobil 4×4. Nah, melewati jalur seperti ini masih tergolong mudah. Memang tumpukan debu vulkanik membuat roda sering kali kehilangan traksi, tapi tidak terlalu membebani seperti layaknya lautan pasir di Bromo.

Sampai di sebuah persimpangan, saya mengambil jalan lurus. Ternyata itu adalah menuju sungai. Ntahlah, apa ini yang disebut dengan Kaliadem. Yang jelas sungainya tidak ada air, melainkan penuh dengan alat-alat berat dan truk penambang pasir. Puas berada di sungai itu, saya balik kanan dan kembali berada di persimpangan. Saya arahkan Si Belalang Tempur ke kanan. Di jalur ini sangat banyak mobil-mobil tua 4×4 yang lewat. Debunya sangat luar biasa. Sampai di ujung ternyata ini salah satu spot yang sangat bagus untuk melihat Gunung Merapi. Dari spot ini Merapi terlihat sangat dekat. Sayangnya saya berada di sana sudah sekitar pukul 12 siang, Merapi sudah tertutup awan. Next time bakal ke sini lagi. :mrgreen:

Setelah dirasa cukup berada di spot ini, saya pulang ke Jogja melewati jalur off road hingga Dusun Kopeng, Desa Kepuharjo, Cangkringan. Di Dusun Kopeng jalannya sudah beraspal, namun beberapa titik masih banyak yang ditutup karena sedang dalam proses perbaikan. Selanjutnya ya lewat Jalan Kaliurang lagi yang mulus hingga sampai di rumah. 🙂

18 thoughts on “Minggu Pagi.. Ngajak Si Belalang Tempur Lava Tour di Lereng Merapi”

  1. wah mantep nih Om …
    kalo mobil “biasa” non 4WD sama diparkir juga ? wah udah kayak ke Bromo dong …. klo mobil terakhir diparkir di mana ?
    kalo ada, boleh dong di-share track log gps-nya
    tks

    1. wah sayangnya GPS nggak tak nyalain om. yang jelas kantong parkir itu hanya kurang dari 1 kilometer sebelum spot-spot wisata seperti rumah mbah marijan, museum, kali opak, batu tumpeng, dan lain-lain. kalau untuk rute lava tour sendiri memang agak jauh, repot kalau mesti jalan kaki.

      sama om, kalau mobil juga mesti parkir, nggak boleh masuk. parkiran mobil nggak jauh dari parkiran motor

  2. byuh berpetualang terus, jadi pengen klx 250
    yah ingat 5 tahun lalu, naik muter dari solo via keteb, pake rx king macet terus kepanasen, akhirnya tidak sampe kinahrejo, balik lagi ke solo……………..masih bandel win tua ternyata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *