Jelajah Gunungkidul: Dari Jembatan Selopamioro Hingga Air Terjun Sri Gethuk

Berbekal rasa penasaran dengan Air Terjun Sri Getuk yang berada di Kecamatan Playen, Gunungkidul, saya pun bergegas mengajak Si Belalang Tempur menuju ke salah satu ikon wisata alam Gunungkidul itu.

Air Terjun Sri Gethuk itu lokasinya berada di Dusun Menggoran, Desa Bleberan, Kecamatan Playen. Dari rumah menuju Playen sebenarnya nggak jauh. Saya bisa saja melewati jalur di sebelah timur rumah yang langsung terhubung dengan wilayah Kecamatan Dlingo, Kecamatan Pathuk, dan Kecamatan Playen di Gunungkidul, dengan waktu tempuh sekitar 40-60 menit. Wong jaraknya kira-kira cuma 35 kilometer kok. Tapi bukan adventure rider namanya kalau langsung straight to the point, karena sebenarnya saya juga penasaran sama yang namanya Jembatan Gantung Selopamioro di Imogiri. :mrgreen:

Dalam perjalanan ini saya sengaja mengajak Si Belalang Tempur menuju Jalan Imogiri Timur. Kira-kira sampai di KM 16, di persimpangan setelah Pasar Imogiri, saya mengambil jalan yang ke kanan, ke arah Panggang. Kalau belok kiri adalah menuju Makam Raja di Imogiri dan Kebun Buah Mangunan. Nah, di sini saya kembali tidak menggunakan jalan utama. Kurang lebih 3,5 kilometer dari persimpangan tadi, ada SMP Negeri 2 Imogiri di sebelah kiri jalan. Nggak begitu kelihatan sih. Lurus merupakan jalan utama, tapi saya sengaja mengambil belok kiri menuju Jembatan Gantung Selopamioro. Jarak dari SMP Negeri 2 Imogiri ke Jembatan Gantung Selopamioro sekitar 4 kilometer melalui jalan perkampungan dan tidak jarang melewati sawah milik warga. Pokoknya cuma lurus aja kok, dan suasana pedesaan sudah sangat terasa di sini. Koordinat Jembatan Selopamioro (07° 56,728′ S, 110° 25,608′ E).

IMG_20141106_102421

Jembatan Selopamioro adalah sebuah jembatan gantung yang terbuat dari bahan dasar pipa-pipa besi dengan alas berupa papan kayu dan digantung dengan tambang besi. Jembatan yang dikenal pula dengan nama Jembatan Siluk ini berfungsi sebagai penghubung antara Desa Sriharjo dengan Desa Selopamioro di seberang. Kedua desa ini memang terpisah oleh Kali Oya yang membelah di antara dua bukit. Dengan adanya jembatan ini, perekonomian masyarakat bisa lebih berkembang. Anak-anak dari Desa Selopamioro yang akan bersekolah di Imogiri juga tidak perlu memutar cukup jauh melalui jalan utama.

Karena posisinya yang membentang di antara dua perbukitan kapur dan melintang di atas Kali Oya, Jembatan Selopamioro ini tampak cantik dengan dominasi warna kuning. Tidak jarang warga Jogja maupun dari luar kota mengunjungi Jembatan Selopamioro untuk berwisata maupun sekedar berfoto. Memang jembatan ini tampak ikonik dan fotogenik. Bahkan kalau om dan tante pernah ke Kebun Buah Mangunan, bisa dipastikan melihat jembatan ini dari atas bukit.

IMG_20141106_102511

Tidak ada biaya untuk sekedar berfoto ataupun bersantai di sini karena ini memang adalah jalan umum. Bebas saja deh. Walau tidak jarang lokasi ini juga digunakan untuk sesi foto, bahkan untuk pembuatan iklan yang tayang di TV. Di sekitar jembatan terdapat beberapa warung yang siap digunakan untuk bersantai sembari menikmati camilan atau minuman.

Setelah sedikit mengambil foto, saya menyeberang dengan jembatan ini menuju Desa Selopamioro, kemudian mengarahkan Si Belalang Tempur ke jalan utama yang menghubungkan antara Imogiri dan Panggang. Kondisi jalan dari Jembatan Selopamioro menuju jalan raya relatif baik. Beberapa bagian awal memang masih berupa off road, tapi selanjutnya sangat mulus. Terlihat aspal masih sangat baru. Beberapa kali saya harus berhenti karena pemandangan di tepi Kali Oya memang sangat menarik.

IMG_20141106_104432

Beberapa saat setelah melewati jalan Imogiri-Panggang yang sangat mulus dan penuh tikungan, saya melihat ada plang bertuliskan “Wisata Alam Watu Payung” ke arah kiri sejauh 3 kilometer. Ya tidak ada salahnya dicoba. Toh ini jalan-jalan nggak jelas juga kan?

Apesnya, saya tidak menemukan objek wisata yang dimaksud. Ntah apa karena saya yang tidak melihat adanya petunjuk arah, atau memang petunjuk itu tidak ada? Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari hasil googling, Watu Payung berada di Dusun Turunan, Desa Girisubo, Kecamatan Panggang, Gunungkidul. Konon di lokasi wisata alam ini terdapat goa dan air terjun.

Ya sudahlah tidak ketemu, lanjut saja melewati daerah hutan di kanan-kiri dengan kondisi jalan yang kadang sangat mulus, kadang hancur parah, bahkan berupa jalur off road. Tapi sebagian besar sudah aspal mulus dan masih baru. Melewati jalur ini saya malah bisa melihat Kali Oya dari ketinggian. Pemandangannya juga bagus banget sih, sayang aja agak mendung.

IMG_20141106_110303

Saya jalan terus hingga menemukan persimpangan yang menghubungkan antara jalan Panggang-Wonosari (jalur yang saya lewati) dan Paliyan-Wonosari. Di persimpangan ini saya berhenti sejenak dan membaca arah, ternyata Air Terjun Sri Gethuk tinggal 3 kilometer lagi. Walaupun sudah pakai GPS tapi tetap memanfaatkan petunjuk arah 😛 . Oh ya, Paliyan dan Playen ini dua kecamatan yang berbeda lho ya, tapi memang namanya mirip dan saling bersinggungan. Air Terjun Sri Gethuk itu sendiri berada di wilayah Playen.

Di sebuah persimpangan, petunjuk arah menuju Air Terjun Sri Gethuk adalah belok kiri dengan jarak 1 kilometer. Tapi saya sengaja mengambil jalan lurus dan sampai di sebuah persimpangan belok kiri melewati jalur yang full off road melewati perkebunan warga. Lumayan untuk sedikit beradventure ria. Jalur off road itu sendiri nggak terlalu jauh sih, cuma 2 kilometer, hingga saya menemukan aliran sungai. Ini adalah aliran Kali Oya yang juga masih satu aliran dengan Air Terjun Sri Gethuk. Kebetulan saat itu juga ada bapak-bapak yang baru memarkirkan motornya. Beliaupun menanyakan tujuan saya. Saya bilang mau ke Air Terjun Sri Gethuk. Ternyata si bapak salah seorang pedagang di lokasi wisata itu. Saya diajak bareng menuju lokasi Air Terjun Sri Gethuk. Asyik!

IMG_20141106_114121

Menuju Air Terjun Sri Gethuk melalui jalur ini sebenarnya ngeri-ngeri sedap. Sedap karena untuk sampai di lokasi harus melintasi jalur off road dan trekking yang sayang dilewatkan bagi pecinta riding adventure. Selain itu, leewat jalur ini berarti nggak perlu bayar tiket dan parkir. Padahal harga tiket cuma Rp 5.000 dan parkir Rp 2.000 :mrgreen: . Ngerinya adalah karena kita harus meninggalkan motor di tengah ladang tanpa terlihat adanya orang yang lalu lalang. Motor ini diparkir tepat di tepi sungai. Si bapak memastikan bahwa aman meninggalkan motor di sana. Selain motor saya dan motor si bapak, terlihat ada dua motor lain yang parkir di sana kok. Bismillah aja semoga aman, pastikan motor terkunci dengan sempurna. Kalau bisa ditambah dengan pengaman tambahan.. :mrgreen:

Trekking dari pinggiran sungai menuju air terjun ini nggak jauh kok dengan melewati jalur setapak. Nggak akan sampai menguras tenaga. Bahkan si bapak sampai membawa tiga karung sekaligus yang berisi barang dagangannya berupa mie instan dan minuman dengan mudah.

DSC_0076

Begitu sampai di lokasi, ternyata Air Terjun Sri Gethuk memang cantik. Air terjunnya sendiri berasal dari tiga sumber mata air, yaitu Kedungpoh, Ngandong, dan Ngumbul. Ketiganya turun dari perbukitan kapur dengan debit air yang rendah dan sampai di aliran Kali Oya di bawahnya. Nantinya aliran Kali Oya ini akan bertemu dengan aliran Kali Opak, kemudian bermuara ke Samudra Hindia. Jadi baru sadar nih, sejak di Jembatan Selopamioro hingga Air Terjun Sri Gethuk yang lumayan jauh ini saya masih berada di Kali Oya. 😆

Menariknya, selain bisa menikmati keindahan air terjun, pengunjung juga bisa mencoba berbagai paket wisata yang ditawarkan. Setidaknya ada tiga paket wisata yang disediakan pengelola, yaitu menelusuri Kali Oya hingga sampai di air terjun menggunaka perahu dengan harga Rp 125.000 (bisa lebih dari 10 orang), body rafting Rp 33.000, dan flying fox Rp 15.000.

IMG_20141106_121412

Paket wisata yang paling menarik perhatian saya adalah body rafting dengan renang menelusuri Kali Oya yang sangat jernih sampai di air terjun. Jiaaaaan pengen rek! Tapi sayang nggak bawa baju ganti. Padahal kayaknya seger banget itu airnya. Apalagi baju udah basah kuyup karena keringat. Gimana nggak basah kuyup wong pakai technical jacket sama riding pants kok. Uang Rp 33.000 tadi digunakan untuk menyewa life vest alias jaket pelampung. Pengunjung tidak diperbolehkan renang tanpa life vest.

Berada di Air Terjun Sri Gethuk jangan berharap udara dingin seperti layaknya udara di pegunungan. Yang ada di sini panas banget om! Nggak heran lah, ini daerah pegunungan kapur yang tandus, gersang, dan panas. Cara paling pas untuk menghilangkan rasa gerah ya nyemplung. Asli cuma ngowoh ngeliatin orang-orang pada renang.

DSC_0101

Nah, daripada cuma ngowoh thok mending pergi ke warung yang ada di sekitar air terjun untuk makan siang. Pesan saya, jangan lupa mencicipi nasi tiwul, salah satu makanan khas di Gunungkidul. Beberapa warung di Air Terjun Sri Gethuk menjual nasi  tiwul dengan olahan seperti nasi tiwul goreng, nasi tiwul tempe penyet, dan lain-lain. Harganya tergolong murah kok untuk ukuran tempat wisata, berkisar antara Rp 7.000 sampai Rp 20.000, tergantung dari makanan (lauk) yang dipesan. Monggo singgah ke Air Terjun Sri Gethuk!

16 thoughts on “Jelajah Gunungkidul: Dari Jembatan Selopamioro Hingga Air Terjun Sri Gethuk”

  1. , ada kesempatan, liburan mudik mau kesana ah,
    mobil bisa nyampe blusukan nggak om, jalannya nampaknya aspal (sdh punya buntut)

      1. Aku org gunung kidul mas, tepatnya Wonosari .. tapi ngontrak d daerah cikarang, biasa lah kuli pabrik.. manteb petualangannya.. lanjutt

    1. ok lah kalo begitu, jalan sudah mulus, nggak blusukan, thank infonya,
      btw pernah ke ijen via bondowoso ? objeknya perkebunan ada homestay bagus, air panas, kawah wurung, ijen, bisa balik lagi atau terus ke bwi, wil bondowoso offroad, bwi hotmix

  2. banyak juga ya ternyata wisata alam perawan di jogja . Eksplore terus bang, ane buat referensi wisata kalau ke jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *