Jelajah Gunungkidul: Perjalanan Melelahkan ke Pantai Ngunggah

Kecamatan Panggang, Gunungkidul, memang bukanlah daerah yang menjadi tujuan favorit bagi wisatawan. Panggang memang lebih minim destinasi wisata dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Gunungkidul. Tapi siapa sangka Panggang memiliki wisata pantai yang tak kalah menarik. 

Salah satu wisata pantai yang sudah cukup terkenal di Panggang adalah Pantai Gesing yang sudah pernah saya ulas pada postingan sebelumnya. Pantai Gesing memang lebih difokuskan sebagai kampung nelayan dan tempat melaut bagi warga untuk mencari ikan. Nah, nggak ada salahnya dong mencari pantai-pantai lain di Panggang?

Beberapa waktu yang lalu saya mencari sebuah pantai yang berada di Panggang. Namanya Pantai Ngunggah. Untuk mencari pantai ini memang membutuhkan perjuangan yang tidak sedikit. Perlu niat dan usaha yang besar deh.

Dari rumah yang berada di Banguntapan, saya mengajak Si Belalang Tempur ke Panggang melalui Jalan Imogiri Timur, kemudian melalui Selopamioro. Jalan menuju Panggang ini tergolong sangat baik, mulus, dan penuh dengan tikungan. Saya perlu berhati-hati karena banyak sekali blank spot yang merupakan kombinasi antara tanjakan dan tikungan.

Sampai di Kecamatan Panggang, tepat di persimpangan terminal, saya mengambil belok kiri. Hanya berselang beberapa ratus meter, kemudian belok kanan di gang yang berada tepat di depan Kantor Kecamatan Panggang. Kantor kecamatan ini menjadi salah satu patokan jika om dan tante sekalian ingin ke Pantai Ngunggah.

Selanjutnya perjalanan melewati perkampungan penduduk dan ladang-ladang hingga sampai di persimpangan yang memotong Jalur Lintas Selatan. Di persimpangan ini ada SD Pejaten yang bisa menjadi patokan. Saya pun mengambil jalan lurus tepat di sebelah SD Pejaten itu. Bukan yang melewati Jalur Lintas Selatan lho ya!

IMG_20141118_104738

Kondisi jalan menuju Pantai Ngunggah ini sebagian sudah cukup baik karena berupa cor-coran semen, melewati perkampungan dan ladang-ladang warga. Tapi ingat, itu hanya sebagian saja. Selebihnya merupakan jalur off road berupa bebatuan kapur yang disebar di jalan. Motor tipe apapun bisa melewati jalur ini. Cuma di beberapa tempat ada tanjakan yang lumayan tinggi. Saat musim hujan seperti sekarang ini bakal menyulitkan, karena kondisi jalan licin dan kita nggak bisa geber gas terlalu dalam saat melewati tanjakan.

Saya terus menelusuri jalan itu sampai mentok, bertemu dengan sebuah gubuk di atas tebing dengan hamparan pemandangan berupa laut selatan yang sangat luas. Tapi kok saya nggak melihat ada tanda-tanda pantai ya? Dari atas sini terlihat agak jauh di sana terdapat cekungan laut yang dihimpit oleh tebing. Saya memperkirakan Pantai Ngunggah tengah himpitan tebing itu.

DSC_0522

Kebetulan lagi, sebelum mencapai gubuk ini saya tadi melihat ada jalan setapak ke kanan. Coba saja lah ajak Si Belalang Tempur menuruni bukit itu. Ternyata turunannya lumayan curam. Kepala mikir, bakal bisa balik nggak ya? Heuheu.. Ternyata sampai mentok pun sebisanya bawa motor belum ketemu Pantai Ngunggah.

IMG_20141118_105452

Saya mencoba ninggalin motor di tengah rimbunnya pohon itu kemudian trekking mencari Pantai Ngunggah. Setelah agak lama trekking menembus semak-semak akhirnya sampai juga di Pantai Ngunggah. Benar-benar blusukan deh. Mesti mencari sendiri jalan ke Pantai Ngunggah ini karena  nggak ada jalan setapak atau bekas orang lain ke sana. Paling warga yang ke Pantai Ngunggah hanya beberapa saja, itupun untuk keperluan memancing. Selebihnya nggak ada wisatawan yang ke sana karena aksesnya memang belum ada.

Seperti apa sih Pantai Ngunggah? Pantai ini benar-benar pantai yang kecil, masih sangat alami, dan berpasir putih. Secara administrasi, Pantai Ngunggah berada di Dusun Pejaten, Desa Giriwungu, Kecamatan Panggang, Gunungkidul.

Pantai_Ngunggah_3

Begitu sampai di sana, saya disambut oleh batu-batu putih yang berjumlah sangat banyak. Pantainya sendiri, benar seperti dugaan saya, diapit oleh dua bukit kapur. Pantai Ngunggah sangat sepi, tanpa pengunjung sama sekali. Sesekali terlihat ikan-ikan berenang di tengah ceruk bebatuan karang. Cakep banget!

Cukup puas berada di Pantai Ngunggah, waktunya balik kanan mengambil motor yang tadi saya tinggal sendirian di tengah hutan. Motor rupanya masih utuh, nggak ada yang nyolek sama sekali. Tapi di sinilah masalah dimulai. Kenapa? Tadi kan waktu berangkat turunannya lumayan curam, sekarang berarti kebalikannya. Tanjakannya tinggi om!

DSC_0545

Permasalahan berikutnya adalah kondisi tanah yang basah karena di malam hari turun hujan. Coba lah ajak Si Belalang Tempur naik. Ternyata nggak kuat! Wadoohh.. Bukan mesinnya yang nggak kuat sih, tapi ban dual purpose yang terpasang pada Si Belalang Tempur nggak menggigit sama sekali. Tanah juga udah lengket semua di ban. Gas udah gede, kopling udah dilepas sepenuhnya, tapi ban cuma muter doang, motor nggak bergerak. Coba dituntun sambil digas, bisa naik sedikit-sedikit, begitu ada kerikil kecil aja yang ganjel langsung nggak bisa nanjak. Perjuangan banget lah ini. Hahaha..

IMG_20141118_110205

Di sini saya baru paham, ban dual purpose seperti IRC GP-22R dan GP-21F tidak mampu menembus kondisi jalur off road yang basah dan menanjak. Dengan kondisi seperti ini memang sudah selayaknya pakai ban enduro. Kalau mau nekad pakai ban dual purpose kayak saya ya dijamin badan klenger.

Lanjut lagi, setelah melewati perjuangan yang keras akhirnya bisa juga sampai di atas. Kepala langsung kliyengan dan saya istirahat sambil tiduran dulu di gubuk tadi sebelum pulang ke rumah. Nggak kuat reeek mau lanjut ke pantai lainnya. :mrgreen:

Contact Me:

10 thoughts on “Jelajah Gunungkidul: Perjalanan Melelahkan ke Pantai Ngunggah”

      1. Salam kenal bro…. saya tinggal di pacitan… kapan kapan boleh join bareng jelajah pesisir pantai selatan… saya juga naik klx 150l … jika berkenan ini pin bb saya 7d1efb5a… thanks bro…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *