Riding Jogja-Surabaya via Tawangmangu, Mampir Candi Cetho

Hampir satu bulan yang lalu, tepatnya pada 26 November 2014, saya melakukan solo riding dari Jogja ke Surabaya. Aktivitas yang lumayan rutin saya lakukan, bolak-balik dari Surabaya ke Jogja, paling tidak satu sampai dua bulan sekali.

Jika dalam perjalanan dari Surabaya ke Jogja saya memilih lewat Jalur Lintas Selatan (JLS) melalui Trenggalek, Pacitan, dan Wonosari, untuk perjalanan kembali ke Surabaya ini sengaja memilih lewat tempat yang agak adem, apalagi kalau bukan Tawangmangu.

Perjalanan dimulai dari rumah di Bantul sekitar pukul 05.00. Ya kurang lebih setelah subuh lah. Seperti biasanya, rute perjalanan melalui Prambanan, Klaten, dan Solo, kemudian dilanjutkan ke arah Karanganyar dan naik hingga ke arah Tawangmangu. Nggak ada yang istimewa sih dalam perjalanan pagi itu.. Maklum juga weekday, perjalanan saat lewat Solo dan Karanganyar agak ramai karena banyak pekerja yang masuk kantor dan anak-anak berangkat sekolah.

Sebelum sampai di Tawangmangu, saya mengajak Si Belalang Tempur ke arah Kebun Teh Kemuning dulu yang berada di lereng Gunung Lawu, tepatnya di Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, kurang lebih 10 kilometer dari jalan utama Solo-Tawangmangu. Kondisi jalan menuju Kebun Teh Kemuning ini bisa dibilang sangat seru, penuh dengan tanjakan dan tikungan yang sangat tajam. Jalan yang relatif sempit juga menjadi tantangan tersendiri dan memaksa siapapun harus ekstra hati-hati saat melintasinya.

Kebun Teh Kemuning menurut saya menyimpan pemandangan alam yang luar biasa. Kenapa? Lokasinya yang berada di ketinggian antara 800-1.500 meter dengan dipenuhi oleh tanaman teh yang hijau membuatnya sedap dipandang mata. Apalagi di pagi hari cuacanya masih sangat bagus. Matahari bersinar cerah dan langit yang biru membuat pemandangan semakin memukau. Suhu udara di area Kebun Teh Kemuning juga sangat sejuk membuat siapapun betah lah berlama-lama di sana. Sebaiknya sih datang ke sini pagi-pagi, karena kalau sudah siang atau menjelang sore Kebun Teh Kemuning sudah tertutup oleh kabut tebal. Peluang hujan juga sangat tinggi di siang atau sore hari.

Dari Kebun Teh Kemuning saya melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih tinggi, yaitu Candi Cetho. Tanjakan ke arah Candi Cetho ini nggak kalah ganas lho. Tapi dengan Si Belalang Tempur menjadi cukup mudah, apalagi Si Belalang Tempur sudah ganti sprocket belakang dengan ukuran 50T, melibas tanjakan pun semakin enteng.

Tanjakan-tanjakan tinggi untuk menuju Candi Cetho memang nggak mengherankan. Lha wong lokasi candi berada di ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut kok. Persisnya, Candi Cetho berlokasi di lereng barat Gunung Lawu, Dukuh Cetho, Desa Gumereng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar, Jawa Tengah. Nggak diragukan lagi kalau udara di sini sangat sejuk, bahkan cenderung dingin. Tidak hanya itu, pemandangan di sini juga sangat spektakuler.

Nah, bangunan Candi Cetho ini mirip seperti bangunan di jaman pra sejarah, berteras-teras menyerupai punden berundak. Setidaknya ada 13 teras di Candi Cetho yang membentang dari barat hingga ke timur. Semakin tinggi lokasi teras (semakin ke timur) menandakan lokasinya semakin suci, hingga ke puncak teras yang berupa bangunan paling suci. Konon, lokasi Candi Cetho ini dulu merupakan tempat bersemedi bagi Raja Majapahit, Brawijaya.

Selain Candi Cetho, di sekitar lokasi ini juga terdapat objek lain, seperti Puri Saraswati dan Candi Kethek. Untuk menjangkau Puri Saraswati masih cukup mudah karena lokasinya nggak jauh dari Candi Cetho. Kalau untuk ke Candi Kethek ini perlu effort yang lebih besar, soalnya kita mesti trekking yang agak jauh, bahkan melintasi sungai. Monggo deh dijelajahi semua kalau ke Candi Cetho, nanggung jauh-jauh udah sampai sini.

Saya sih bukan cuma sekali dua kali ke Kebun Teh Kemuning dan Candi Cetho. Kalau dihitung sudah empat kali saya ke sini.. Tiga kali riding dengan motor dan satu kali driving pakai mobil bareng-bareng sama keluarga. Dua lokasi ini memang jadi spot wisata favorit saya di Jawa Tengah. Selain tempatnya sejuk dan pemandangannya bagus, juga masih sepi pengunjung dibandingkan dengan tempat-tempat lain, ambil contoh Air Terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu. Dan syukurnya saat saya mengajak keluarga ke sini mereka semua suka.

Well.. Setelah cukup puas menghirup udara segar di Candi Cetho saya turun deh, kembali melewati Kebun Teh Kemuning, agak naik lagi ke arah Candi Sukuh, dan kemudian melewati perkebunan dan perkampungan warga hingga sampai pintu masuk belakang Air Terjun Grojogan Sewu. Tapi saya nggak mampir kok dan langsung ngacir ke jalan raya menuju ke arah Cemoro Kandang/Cemoro Sewu yang menjadi perbatasan antara Jawa Tengah (Karanganyar) dan Jawa Timur (Magetan). Oh ya, Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu ini adalah pintu masuk untuk pendakian Gunung Lawu. Bagi om dan tante yang mau mendaki Gunung Lawu bisa melakukan start di sini. Ini pintu yang umum digunakan lho ya. Pintu alternatif lain bisa melalui Candi Cetho tadi.

Di Cemoro Sewu ini saya berhenti sebentar di sebuah warung. Perut mulai keroncongan dan minta diisi dengan sate kelinci. Sepanjang jalan ini banyak banget warung berderet.. Monggo dipilih saja sesuai selera. Memang paling enak sih di tempat yang sangat sejuk bersantai sambil makan sate kelinci, jagung bakar, dan ngopi. Joss banget lahh!

Setelah kenyang ya lanjutkan perjalanan lagi.. Cemoro Kandang/Cemoro Sewu adalah titik tertinggi yang dilalui kendaraan di jalur ini. Jadi setelah itu kondisi jalan akan lebih banyak menurun. Perlu ekstra hati-hati juga karena banyak tikungan tajam. Jalannya sih enak, lebar, tapi jangan sampai terlena. Dalam perjalanan ini saya juga melewati Telaga Saragan. Nggak mampir juga karena sudah pernah beberapa kali, cuma foto aja dari tepi jalan. Lanjut turun terus sampai ke Magetan yang udaranya udah nggak sejuk lagi. Dari Magetan ya tinggal lanjut ke arah Madiun, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, hingga sampai Surabaya.

Contact Me:

About these ads

7 thoughts on “Riding Jogja-Surabaya via Tawangmangu, Mampir Candi Cetho”

  1. candi cetho konon juga pintu masuk jalur pendakian lawu pada masa kerajaan dulu om.
    taun 2011 nanjak lawu via cetho enak, lebih sepi, asikk.
    ojek supra sampe ora kuat ngebonceng ane sama carrier di tanjakan trakir om

    salam dari silent reader

Leave a Reply